Sebuah pengakuan! saya pembunuh berdarah dingin.

Posted on 27 October 2011

41


Mohon maap kalo ada orang yang ngecap saya sebagai mahkluk paling biadab dimuka bumi ini! dan tidak dipungkiri kalo saya juga mempunyai naluri membunuh setara Hitler tanpa sepengatahuan situ.

Cerita bermula ketika saya akan menapaki umur yang terus tergerus diangka 30 beberapa waktu kemarin.

Sebenarnya kita sudah cukup tentram hidup berdampingan tanpa memandang status. Saya menghargai mereka sebagai mahkluk ciptaan Tuhan dengan mengijinkan tinggal serumah, dan hebatnya, tidak pernah sedetikpun keluarga saya mempermasalahkan kelakuan usil mereka yang terkadang bisa dikategorikan tidak masuk akal sehat manusia.

***

Misal, mau makan silahkan saja ambil dimeja jika memang perut kami sekeluarga sudah kenyang, walopun terkadang kamu lebih suka mengambil tanpa ijin makanan yang belum kami jamah tapi itu tidaklah mengapa, karena kami juga menghargai kamu sekalian sebagai sesama yang tinggal satu atap. Perlu kamu ketahui, jikalo berak, kencing, ato muntah akibat kekenyangan makan disembarang tempat seperti dibawah ranjang ato disela almari baju, jujur kami masih bisa menahan geram akan ulah kalian. Kenapa seperti itu? lagi-lagi karena kami menghargai kalian sebagai salah satu mahkluk ciptaan Tuhan sama halnya dengan saya sekeluarga, yang terkadang suka melakukan kesalahan.

Sehari, seminggu, sebulan kemudian tingkah kamu bertambah aneh. Kenapa ketika kamu saya beri hati malah melonjak tidak karuan? sudah beruntung saya tampung keluargamu dirumah kami, andaipun panas istrimu tidak bakalan kepanasan dan andaipun hujan anak-anakmu pasti tidak bakal kehujanan. Kurang baik apa coba keluarga saya?!

Tapi…

Pertama, ketika putri kecilku menangis sedih melihat jaket kesayangannya yang terlipat rapi dialmari robek (mungkin) akibat ulah nakal anak-anakmu yang gemar mengeratkan gigi-gigi mungilnya pada sembarang benda, saya masih bisa mentolerir kesalahan itu.

Yang kedua, ketika dengan sengaja salah satu (mungkin) dari istri ato selingkuhanmu mengencingi mainboard di CPU Komputer butut saya yang tidak pernah tertutup casingnya sampe mati, mulai timbul amarah yang masih bisa tertahan karena nyatanya saya mampu beli mainboard baru.

Dan yang terakhir, saya anggap ulah mu itu benar-benar membahayakan kelangsungan hidup keluarga saya. Bagaimana tidak murka ketika mendapati selang gas dari kompor didapur sobek akibat gigitan iseng yang mungkin bagi keluargamu itu hal biasa, tapi buat saya itu merupakan ancaman pembunuhan terencana untuk mengambil alih hak seisi rumah ini biar berpindah tangan kekeluarga kalian, iya tho?! Coba bayangkan sodara-sodara pembaca, jika saja istri saya yang tidak secantik masa gadisnya tanpa menyadari selang gas robek lalu sekonyong-konyong nyalaian kompor……BLARRRRR!!!!, bisa saja terjadi kan?

Ini sudah diambang batas yang tidak mampu ditolerir oleh siapapun. Kalian sekeluarga yang saya hormati sudah berusaha mencelakakan keluarga saya, dan kini dimata saya kalian sudah saya anggap sebagai mahkluk yang tidak berakal, mahkluk yang tidak tahu terima kasih, ato lebih tepatnya mahkluk yang penginnya menang sendiri!, kampret kalian!

Saatnya kini saya nyatakan BUNUH kamu sekeluarga semua tanpa terkecuali!

Selang beberapa hari kemudian.

Ketika kedua mata saya melihat (mungkin) kedua anakmu karena dari ukuran tubuhnya yang masih kecil lucu dan berwarna kemerahan tewas meregang nyawa akibat umpan makanan yang sudah saya taburi racun sukses terlahap, betapa gembiranya perasaan ini, “yeah! mati dua“, begitu batin saya. Esok nya lagi ketika melihat 2 dari keluarga kalian entah itu istri ato selingkuhan yang lagi hamil tua karena dari salah satu perutnya terlihat membuncit, terbujur kaku dengan mulut mengeluarkan darah, betapa bersorak gembiranya lagi hati saya, “yeah-yeah! mati lagi keluargamu semua“, begitu teriak saya kebangkai sosok yang kamu cintai. Terakhir dari pengamatan saya beberapa hari, mungkin kamu sebagai kepala keluarga saat ini berhasil kabur dari aksi genosida dan kini tengah bersembunyi sambil melihat saya mengetik artikel berdarah ini, saya ucapkan selamat karena ulahmulah membuat naluri pembunuh saya bangkit. Pesan saya, jangan pernah datang lagi kerumah ini ato nyawamu sebagai taruhannya!

Note: Semoga Tuhan mengampuni perbuatan saya ini terhadap keluarga kalian, kalopun tidak itu sudah menjadi kehendakNya.

Demikian dari saya,

Salam.

***

Pengin tahu siapa sosok yang saya bunuh? amati dengan seksama penampakan dibawah…

Posted in: Petuah & Opini