Asal muasal lahirnya Fans Boy (Sebuah teori konspirasi).

Posted on 17 November 2011

58


Buat nyang mo ngebaca artikel ini, sebelumnya saya mohon maap kalo mata situ akan dibuat lelah karenanya. Soale, jujur aja nih ya, saya ndak bisa ato belum bisa ngebuat artikel pendek satu bait yang kemudian secara ajaib mendatangkan banyak hits. Memang Blog Sesat ini ditujukan untuk tidak mengemis hits, melaenkan nampung sekumpulan homo sapiens sesat buat tuker pikiran.

***

Blogger Sesat (BS): “Selamat siang, pak”

Juragan Pabrik (JP): “Selamat siang, anak muda.”

BS: “Seperti yang udah kita ketahuin, bahwa dinegeri Bedebah ini persaingan industri otomotif semakin ketat. Mungkin tidak bisa dipungkiri kalosannya semua produk yang selama ini pabrikan bapak hasilken akan lama bertengger dipuncak penjualan. Bisa saja kan dengan segala daya upaya, pihak kompetitor mempelajari grand strategi perusahaan bapak buat ngounter bahkan mukul balik apa yang selama ini perusahaan bangun.”

BS: “Nah, kira-kira ada nggak upaya yang dihasilkan pabrikan bapak untuk tetap mengukuhkan bahwa produk bapak lah yang nomor satu?”

JP: “Ah, itu pertanyaan klise, anak muda. Bagi kami sudah jelas, inovasi produk, serta hasil revolusioner adalah yang utama bagi konsumen. Dan tentunya tidak lupa, taste selera pasar harus disesuaikan biar apa yang kita buat bisa diterima. Tapi seperti yang sudah kita pahami, menghasilkan produk seperti itu membutuhkan modal besar. Walopun penjualan kita lebih moncer dibanding kompetitor, bukan berarti kita tidak memikir cara alternatif yang lebih tepat sasaran untuk memperkuat dominasi pasar, dan tentunya cara ini lebih murah dari pada harus membuang-buang cost R & D buat melakukan pengembangan produk baru.”

BS: “Maksud dari kata-kata terakhir bapak itu kok saya belum paham, ya…?”

JP: “Begini anak muda. Dalam suatu penjualan, hal yang paling berpengaruh dalam menentukan laku tidaknya suatu produk adalah konsumen. Maka untuk itu ubahlah mindset konsumen agar setia dengan kita. Jadi kalo konsumen sudah terpengaruh, meskipun pihak kompetitor mengeluarkan produk baru dengan harga lebih murah, plus teknologi kualitas diatas rata-rata sekalipun, kita yakin mereka bakal setia dengan apa yang kita jual.”

BS: “Terus bagaemana caranya, pak? Maksud saya, bagaemana agar konsumen setia dengan produk bapak?”

JP: “Sebenarnya hal itu ada banyak cara, anak muda. Tapi, setelah kita pelajari dan rangkum, hanya tinggal dua cara yang ampuh dan efisien untuk diterapkan ke pasar. Apa itu? Yakni dengan menanamkan sifat fanatisme serta mengembangkan paham takut beda ke konsumen…”

“Disini kita harus membuat, bagaimana agar konsumen tidak berpaling kedekapan tetangga sebelah, kita harus membuat mereka fanatik dengan brand kita. Yakinkan mereka jika mencoba produk kompetitor merupakan suatu kesalahan fatal.”

“Sebagaimana slogan iklan minyak kayu putih yang ada ditipi-tipi itu, “Buat Anak Kok Coba-Coba”, nah dari situ kita sudah memberikan pemahaman kalo konsumen mencoba produk lain akan merasa bersalah. Atau mungkin ada contoh lagi dari slogan produk jamu, “Orang Pintar Minumnya Tolak Angin”, itu juga sudah menegaskan bahwa orang berpendidikanlah yang mengenakan produk kita.”

BS: “Lantas, bagaemana dengan mengembangkan paham takut beda ke konsumen pak?”

JP: “Mari kita minum dulu, sebentar. Okei, yang ini intinya juga sama dengan yang tadi. Kita harus menanamkan paham takut beda ke konsumen kalau berpaling dari brand kita. Yakinkan mereka kalau menggunakan produk selain brand kita itu merupakan suatu kesalahan. Seperti bunyi iklan dari operator seluler yang kemarin bikin gempar, misalnya, “Yang Punya Rumah Ini Artis! Mukamu Ndeso!”, Nah, disitu sudah ditegaskan kalau tidak memakai produk selain dari brand kita akan dianggap melakukan kesalahan fatal yang malah mempermalukan si konsumen itu sendiri.

BS: “Kira-kira, langkah yang bagaemana pak agar hal-hal yang tadi disebutkan bisa di goal kan?”

JP: “Ya, seperti yang mungkin sudah anda saksikan sendiri. Di berbagai media baik cetak maupun on-line, dikomunitas, dipasar, di mall-mall, atau bahkan disekolah-sekolah pun kita secara berulang-ulang terus melakukan brainwashing.”

BS: “Kira-kira apakah ada sasaran khusus agar metode yang bapak sampaekan tadi lebih mujarab ter‘arsorb?”

JP: “Oooo, tentu ada. Kita punya target khusus akan hal itu. Remaja akhil balik, iya, para remaja yang baru tengah asyik menikmati indahnya masa muda merupakan target kita. Kenapa harus mereka? Yang jelas umur mereka lebih panjang, usia mereka sangat produktif bagi program kita, selain itu mereka juga masih lemah dalam menggunakan logika berpikir, maka dari itulah celah yang sangat mudah untuk melakukan brainwash adalah konsumen muda. Bayangkan efek snow ball nya kedepan. Ketika mereka sudah tua nanti, program yang sudah kita pantek di mindset mereka bakal diwariskan ke anak cucu selanjutnya.”

BS: “Ya…ya…ya, saya paham pak dengan apa yang bapak utarakan. Kesimpulannya, jika program ini sukses, maka konsumen akan menjadi sangat fanatik terhadap brand bapak. Meski nanti suatu saat pabrikan mengeluarkan produk paling busuk sekalipun, konsumen akan selalu setia tidak berpaling kelain merek. Betul begitu?”

JP: “Betul sekali anak muda. Dan, jika ada segelintir pihak yang merasa dirinya pintar mengkritisi kwalitas produk kita dibanding buatan kompetitor kalah segala-galanya, konsumen yang sudah terprogram tadi bakal ‘angkat senjata’ dengan cara konyol sekalipun untuk membela. Membela brand kita tentunya. Uhuy, bukan?”

***

Itulah kira-kira teori konsipirasi laernya Fans Boys (FB). Kalo situ tidak merasa sebagae FB, saya yakin tidak akan mencak-mencak disini, iya ndak? Hayo, ada yang siap-siap lempar bata ndak tuh?😀

Demikian dari saya,

Salam.