Ada anak bertanya pada ayahnya.

Posted on 19 November 2011

21


Suatu pagi dihari minggu nan cerah, seperti biasa setelah keluarga kecil bahagia yang barusan pulang dari rumah Tuhan kemudian bercengkrama bersama untuk menikmati kebersamaan yang kian hari terasa mahal nilainya. Maklum sang pemimpin keluarga adalah seorang pekerja pabrik biasa yang berusaha keras mencukupi kebutuhan hidup dengan membunuh waktu kebersamaan sang anak demi beberapa jam upah lembur. Pun demikian dengan sang penopang kebutuhan rumah tangga, ia terpaksa merelakan waktu dengan buah hati demi membantu suami mencukupi besarnya kebutuhan hidup. Tak ayal jikalau hari libur, sebisa mungkin mereka gunakan menumpahkan rasa kebahagiaan bersama, seperti pada hari minggu ini misalnya.

***

“Yah, ayah, dedek mo nanya, boleh kan?”, dengan mimik manja mencari perhatian yang dirasanya sangat jarang ditumpahkan kepada ayahnya, putri kecil keluarga bahagia tersebut membuka obrolan yang nantinya akan terasa mengguncang nalar, kalo tidak salah sih.

“Tanya apa sayang?”, jawab sang ayah dengan lembut.

“Kenapa sih yah, tadi pas digereja Romo (Pastur) berdoanya kenceng sekali, pake pengeras suara lagi. Terus habis gitu banyak jema’at yang ada termasuk juga adek, ayah, dan mamah juga ngikutin dengan kata amin kenceng? Tau nggak yah dari luar gereja sampai kedengeran lho doanya.”

“???”, sepersekian detik kemudian sang ayah terbengong dengan pertanyaan si anak.

Kaget, bingung, dan takjub seketika itu menggelantung diair muka sang ayah. Kaget dimana anak yang baru berumur tiga tahunan sudah kritis memperhatikan lingkungan sekitar yang dianggapnya penuh teka-teki, Bingung harus mencari jawaban apa untuk memberi pengertian secara logika kepada sang buah hati, tidak mungkin kan anak jaman sekarang cuman diberi jawaban, “ya, pokoknya seperti itu.”, dan Takjub ternyata anak sekarang punya kemampuan berpikir melebihi sang ayah tempo dulu, dimana jaman dulu anak umur segitu malah asyik maen disawah sambil berburu belut ato ikan wader.

Dengan sedikit menghela nafas, sang ayah mulai memberi pengertian kepada putri kesayangannya, “Begini sayang, sebenernya yang berdoa kenceng itu bukan orang seperti kita saja lho, sodara kita yang muslim juga tho? tuh buktinya masjid di gang belakang rumah tiap hari selalu mengumandangkan doa sehari 5 kali, pake pengeras suara pula.”

“Emmm, iya ya yah, tapi kenapa harus kenceng-kenceng pake pengeras suara? kata ayah kalo doa kan harus dalam hati, terus gimana tu yah?”, sekali lagi bocah perempuan berparas manis itu mengejar sang ayah dengan pertanyaan ajaibnya.

“Sayang, ayah mo nambahin pengetahuan juga soal doa. Dalam berdoa itu tidak harus dengan berbicara dalam hati saja, tapi bisa juga berteriak atopun menggunakan media, misal ya pengeras suara itu tadi, tapi kadang ada lho beberapa orang yang berdoa menggunakan media internet, tahu kan internet? yang tiap hari ayah gunain buat nyari film?”

“Iya yah, film yang kata mamah buat belajar bikin dedek ma ayah itu ya?”

“Pinter kamu sayang!”

“Terus kenapa harus menggunakan media yah? kalo lewat internet ato pengeras suara kan bisa diliat dan didengar banyak orang? apa ndak malu ya doanya diliat orang? kan itu namanya pamer.”

“Owww, tentu tidak sayang. Begini lho, pada dasarnya orang yang berdoa menggunakan media itu awalnya mengungkapkan kekecewaan dari alam bawah sadarnya. Mereka kecewa karena doanya tidak segera ditanggapi Tuhan secara instan. Karena berkali-kali memohon dalam hati tapi diacuhkan, maka para manusia termasuk ayah, dedek, mamah, dan orang-orang yang beragama juga perlu melakukan aksi untuk menarik perhatian Tuhan. Jadi itu bukan pamer, sayang.”

“Kok dedek belum mudeng ya yah?”

“Begini untuk lebih mudahnya, misal seperti kemarin, dedek minta dibeliin bakso ke mamah, pertamanya dedek minta dengan cara halus tapi karena mamah lagi sibuk nyabutin bulu ketek, otomotis permintaan dedek ndak didengar, kan? Nah, dari situ dedek cerita kenceng sekali ke ayah kalo minta bakso tapi tidak dibeliin ma mamah secara hiperbolis, padahal sebenernya tidak, cuman mamah lagi sibuk dengan bulu-bulunya saja. Tapi setelah mamah diberi pengertian oleh ayah akhirnya dedek jadi dibeliin bakso kan, begitu.”

“Sama hal nya dengan berdoa, ketika berdoa secara personal tidak didengarkan oleh Tuhan maka perlu media lain, bisa dengan pengeras suara ditempat ibadah masing-masing, bisa lewat internet, misal menulis di blog seperti ayah ato facebook seperti mamah. Semakin banyak didengar ato diliat orang, harapan dari sipendoa adalah Tuhan jadi memperhatikan, moga-moga dikabulkan.”

“Terus kalo sudah mencari perhatian tapi doanya tidak diperhatikan Tuhan, gimana yah?”

“Waduhhh! kok pertanyaanmu bikin ayah tambah banyak mikir ya? emmm, begini. Masih inget kan dedek waktu liat tipi sama ayah yang nyiarin demo pak presiden itu?”

“Yang ada Aura Kasih nya itu ya? yang sering diliat mamah itu ya? yang kalo dedek minta disetelin Shaun Of The Sheep ndak boleh ma mamah itu ya yah?”

“Bukan, bukan itu dek, dan jangan sering-sering liat sinetron kaya mamah lho! kenapa?”

“Kenapa, yah?”

“Nanti kalo sudah besar bulu ketekmu jadi panjang kaya mamah, hiiiiii…menjijikan!”

Dan seketika anak-ayah itupun tertawa bersama sebentar, lalu…

“Sudah, sudah ketawanya, mau lanjutin yang soal doa tadi ndak?”

“Mau-mau, yah!”

“Sampai mana tadi? soal demo ya? Jadi gini, sayang. Ketika manusia sudah melakukan banyak hal untuk menarik perhatian Tuhan tapi masih tetap merasa tidak terkabulkan doanya, maka hal aneh yang dilakukannya adalah menarik perhatian sesamanya untuk berame-rame mengajak berdoa bersama.”

“Sama halnya dengan demo kepada pak presiden, ketika rakyat seperti kita tidak diperhatikan lagi oleh pemimpinnya yang tengah sibuk dengan urusan politik golongan, misalnya. Maka akan banyak orang melakukan demo kepada kepala negara. Apa harapannya? agar pak presiden mau mendengar aspirasinya dan syukur-syukur dikabulkan keinginannya. Sama halnya dengan doa sayang, kalo secara personal tetap tidak membuahkan hasil maka akan dilakukan dengan menggunakan media, kalo masih tetap tidak dikabulkan juga maka akan melakukan doa bersama dengan banyak orang. Harapannya sih Tuhan akan mengabulkan permintaan sang umat, gitu. Sudah paham belum?”

Belum sempat si anak menjawab pertanyaan sang ayah, tiba-tiba dari arah luar gerbang rumah terdengar suara bocah laki-laki sebaya yang kedengarannya tidak asing buat telinganya, memanggil-manggil untuk mengajaknya bermain. Maka seketika itu pula si bocah pun sudah melupakan obrolan rumit dengan sang ayah, kemudian beranjak pergi untuk kembali tenggelam dalam dunia penuh warnanya.

“Untung ada yang mengajakmu maen, sayang, coba kalo tidak, sudah pusing ayah kamu buat. Dasar anak sekarang, semakin pintar dan semakin kritis saja.”

Demikian dari saya,

Salam.

******************************

Nb. Cerita diatas ngawur adanya, jadi kalo ada yang salah dalam memberikan perumpamaan ya manusiawi tho? namanya juga bukan orang pinter, kaya yang mbaca artikel ini…