Sadar ato tidak sadar, berterima kasihlah pada ‘mereka’.

Posted on 22 November 2011

38


Entah percaya ato tidak, mungkin ini juga berlaku buat situ yang tengah ngebaca tulisan ndak nggenah ini.

Banyak segolongan homo sapiens yang sukak berangkat nguli pagi-pagi, menggauli stress yang berusaha dijauhinya selama 7 jam perhari, pulang larut malam, nongkrong di depan tipi, nonton OVJ biar katanya dapat pahala sesuae opening song nya, ngantuk, tidur, dan esoknya looping lagi, lagi, dan lagi, seperti semula.

Mengais-ngais gaji yang perbulan nominalnya habis buat bayar cicilan ini-itu, habis buat transport dan makan, habis buat nyenengin orang-orang yang disayang (selingkuhan? mungkin!).

Bagi yang masih ada sisa bisa dibuat bergaya hidup hedonis sesuae anjuran iklan ditipi-tipi ato nge-net pamer kenyataan hidup lewat facebook, blog, bahkan tweeter.

Dari sini bisa disarikan, jati diri saya, situ, kita, ato semua yang merasa sepaham dengan tulisan ini adalah pekerjaan. Kata ‘putus hubungan kerja‘ merupakan suatu mimpi buruk yang perlu dijauhi. Kita akan merasa bukan siapa-siapa kalo udah sampe kehilangan pekerjaan. Kita merasa kehilangan kebanggaan, harga diri, selingkuhan, bahkan nyawa, nyawa untuk orang-orang yang kita nafkahi tentunya.

Maka tidak heran, kalo sadar ato ndak sadar, saya, situ, kita, ato semua yang merasa sepaham dengan tulisan ini akan berusaha mengajar bahkan menghajar ke keturunannya agar tumbuh berkembang pintar dalam mendapatkan gaji.

Intinya, keturunan kita harus lebih sukses dari kita, setidaknya lebih sukses dari pada mahkluk-mahkluk yang menggaji kita saat ini.

Jadi pada akhirnya, kita wajib berterima kasih kepada para mereka. Karena jika mereka punah, siapa lagi yang bakal nurunin gaya hidup seperti diatas.

 

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini