Komentator yang menyebalkan menurut upil dikepala saya.

Posted on 10 December 2011

74


Sebage manusia yang gemar berimajinasi serta mengamati sosialita kehidupan disekitar, dan untungnya bisa sedikit ngarang bebas didomain gratis rekaan Matt Wulenbergh, wajar dong kalok saya juga mampu mengamati bagemana tipikel komentor yang suka melacurkan diri di Blog ini.

Dan sepertinya tipikel komentator ini juga berlaku buat semua homo sapiens yang nyatanya mampu mengelola Blog pribadinya secara profesional ato ngasal kayak saya, contohnya.

Oke degh, mari mulae aja.

Berikut jenis-jenis komentator yang udah saya klasifikasiin secara tidak bertanggung jawab, sok analisis, maupun semena-mena tentunya.

  • Komentator berpendidikan.

Mungkin saking jeniusnya komentator ini, semua artikel ato tulisan yang dianggap tidak sesuai dengan pemikirannya bakal dianggap ‘sampah’.

Jadi kalo memang si komentator ini lagi banyak pulsa dan pengen ngisi kolom komen di Blog yang ia baca, maka ndak segan-segan ia akan nyampah, “artikel sampah, cuman nyari sensasi doang, kalo mbuat tulisan mbok yang bagus dan bermutu kayak blogger-blogger kondang ituh!“, contohnya.

  • Komentator jenius.

Ndak tau degh gimana orang tuanya ngedidik para komentator inih. Lha kenapa tho? Tiap kali ada artikel yang dirasa menyinggung, entah menyinggung dirinya, pacarnya, ato mungkin nyinggung ukuran kemaluannya, bahkan mungkin merk motornya sekalipun, ia bakal mengalihkan topik dan berusaha memelintir tulisan si Blogger dan membaliknya seolah-olah menjadi senjata makan tuan bagi si penulis. Dan sebisa mungkin membuat si pemilik Blog merasa trauma karena udah nyinggung apa yang ada di dirinya tersebut.

  • Komentator pinter.

Karena mereka tipikel mahkluk pinter, makanya tiap kali buang-buang rupiah demi ber Blog Walking ria, ciri khas yang ia tinggalkan dibeberapa Blog yang ia lacuri cuman berupa, “Pertamax”, “Keduaxx”, “Ketiaxxx”, dan seterusnya.

Pasti situh panasaran kan kenapa mereka mau melakukan itu? yang jelas mereka tidak mau membuang sia-sia kepintarannya cuman untuk mbaca dan ngertiin artikel-artikel ndak penting macam yang tengah situ baca kali ini.😉

  • Komentator ndak beres.

Sebenernya komentator model ginian merupakan gabungan dari ketiga jenis komentator yang udah saya sebutin diatas. Ajib, kan? tapi, kebanyakan dari mereka lebih suka memilih ‘diam’ alias cuman jadi penonton doang. Isitilah kata, Silent Visitor.

***

Nah, buat saya, dari beberapa komentator yang udah saya sebutin diatas ada satu komentator yang saya anggap paling menyebalkan. Mereka adalah komentator terakhir.

Kenapa?

Sebenernya mereka pintar, sebenernya mereka jenius, sebenernya mereka berpendidikan, tapi mereka lebih memilih diam, karena yang ada dipikiriannya diam adalah hal terbaik. Lantas, kenapa mereka saya anggap menyebalkan? karena itu mewakili banyak masyarakat Endonesa, macam saya tentunya. Masyarakat yang lebih banyak diam ketika ngeliat ketidak beresan terjadi pada sistem dinegaranya, lebih memilih diam ketika aturan yang tidak pro rakyat disyahkan, lebih memilih diam ketika sumber daya alam dikeruk kekuasaan bangsa asing, dan lebih memilih diam seperti orang ndak beres yang lagi-lagi macam saya tentunya.

“Ngapain harus ribut kalok itu tidak menyinggung saya?”

“Selama masih bisa ngidupin keluarga, selama masih bisa makan, selama masih bisa selingkuh, ngapain ngurusi hal yang bukan urusan saya?”

“Urusan negera beserta sumber dayanya, itu kan sudah ada yang nge-handle. Pemerintah kita kan tidak tidur tho?”

Dan masih banyak contoh lain yang bisa membenarkan ke’diaman’nya.

Bahkan ketika para penyeleweng biadab berkedok aparat pemerintahan berkata, “Lha wong yang demo ndak setuju cuman segelintir pihak aja kok dipermasalahin, sumpal dengan uang nanti juga beres. Yang penting nih, banyak kalangan mayoritas masih pro dengan aturan kita. Yuk korupsi berjemaah lagi”.

Padahal kalok situ mampu melumerkan upil yang ada ditempurung kepala, yang dimaksud dengan kalangan mayoritas ya banyak kelompok yang diam itu, termasuk mereka yang sebenernya tidak setuju tapi memilih diam…diam…dan DIAM!.

Sungguh menyebalkan mereka ini, tapi mau gimana lagi lha wong itu udah jadi pilihan mereka kok, termasuk saya juga tentunya. He..he..he…

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini