Balada bandot tua.

Posted on 15 December 2011

79


Sebelum mbaca tak kasih tau dulu, ini artikelnya panjang kayak novel stensilan gitu. Dibutuhkan kinerja otak ekstra keras untuk bisa ngertiin cerita ini, jangan gunakan upil ato kotoran tubuh yang lain untuk ngambil sudut pandang dari akhir kesuluruhan ceritanya. Silahkan baca kalo tidak kepaksa😀.

Suatu siang dikota Surabaya yang lembab karena mendung sudah membayang tinggal menunggu detik untuk menumpahkan bahtera hujan menghujam bumi. Sementara itu ditengah riuhnya kota tersibuk kedua setelah ibu kota, nampak dua insan beda usia serta kelamin tengah terengah menikmati sejuknya pendingin udara disalah satu kamar president suit hotel bintang lima.

Dari gelagat serta ekspresi kepayahan sang pria yang nampak berusia paruh baya, sangat terlihat kalo dia habis dimabuk orgasme, sedikit kelelahan tapi air mukanya menunjukan kalau telah terpuaskan oleh permainan pasangannya. Senyum mesum nampak selalu menghiasi keriput wajahnya jika kedua mata insan ini berada pandang. Sedangkan si wanitanya sendiri…o…ow…oww…terlihat biasa saja, tidak nampak wajah lelah atau melayang akibat efek multi orgasme dari si bandot tua. Bandot tua? iya, saya sengaja menggambarkan pria itu sebagai sosok bandot tua, karena wajahnya yang nampak pipih picik dengan gurat kerut diarea mata berhidung kecil disertai jenggot nabi yang tumbuh subur didagunya, nampak jelas menampilkan siluet wajah bak seekor bandot tua.

Lantas kira-kira siapa dan tengah apa saja mereka berdua sampai-sampai memadu kasih dihotel mewah tersebut?

“Om, kenapa kok sekarang om lebih banyak diam dan tidak lagi vokal membela kepentingan rakyat seperti dulu?”, buka pembicaraan si wanita kepada bandot tua yang kesadarannya belum pulih karena habis terlempar ledakan orgasme sampai ke awang-awang.

Sambil mengusap bulir keringat yang menetes dari dahinya, pria tua tersebut mengatur posisi duduk sambil menyandarkan punggungnya kesisi ranjang, “Maksud kamu diam tuh yang bagemana, sayang?”

“Ketika teman-teman om digedung wakil rakyat sana membuat PerDa yang tidak pro rakyat serta ada yang terang-terangan korupsi secara berjemaah, kenapa om memilih bungkam? seolah-olah hal itu adalah hal yang biasa bagi segelintir kalangan seperti om.”

Bagaikan tergigit semut kecil namun menyakitkan, seketika itu pula sibandot tua tersebut memaksa kesadarannya pulih guna membendung pertanyaan si wanita cantik berkulit putih didepannya, “Sayang, sebenernya dari dalam hati, om juga tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman om, tapi…”

Belum selesai kata-kata yang terucap dari bibir lawan mainnya, lagi-lagi dengan gerakan menggoda, si wanita tersebut sengaja menggesek-gesekan ujung kedua payudaranya yang montok keperut si bandot seraya berkata, “Jadi teringat cerita om beberapa bulan kemarin, ketika om masih muda, masih giat berpolitik untuk kepentingan rakyat yang benar-benar membela rakyat, menurut saya itu sangat keren. Tapi kenapa ketika umur om sudah terbilang bijak untuk mengambil keputusan, sikap om malah berubah 180 derajad. Gemar melakukan hal tidak penting seperti maen-maen dengan saya, misalnya.”, tutup cerocos si wanita dengan sengaja memainkan penis si bandot yang sudah lunglai tak berdaya tersebut.

“Sayang, seperti yang kamu lihat sekarang ini. Om sudah tua, om terlalu tua untuk melawan arus yang ada, tenaga om tidak sekuat dulu lagi. Om hanya ingin menghabiskan masa tua dengan damai.”, jawab si bandot sambil menyibak tangan si wanita karena penisnya masih sensitif.

“Maksudnya?”

“Sayang, kamu tahu berapa penghasilan saya sebagai wakil rakyat? puluhan juta. Itu bukanlah jumlah yang sedikit, semua uang yang om dapetin dari daftar kehadiran sewaktu rapat, uang tunjangan, uang proyek bawah tangan ini itu, dan uang lain-lainnya. Akan sangat bodoh jika mempertaruhkan semuanya dengan melawan arus pemberi kebijakan, melawan keinginan mayoritas, menentang kebijakan partai, sungguh om tidak mau kehilangan itu semua setelah semua yang om peroleh selama ini. Jika nekat dengan mengemban nurani rakyat untuk diperjuangkan, om rasa itu namanya bunuh diri. Bagaimana dengan istri om? anak om? dan tentunya kamu, sayang? tidak mungkin melepas semua kenyamanan yang sudah om raih demi mengatas namakan suara rakyat. Tidak mungkin itu!”.

“Tapi om kan wakil rakyat? uang yang dipakai om untuk bersenang-senang ini juga hasil keringat sebagian rakyat dari membayar pajak. Kenapa om tega ngelakuin itu? om tidak takut dosa ya?”

Sebentar kemudian air muka si bandot nampak serius, tapi mengetahui lawan bicaranya mulai bereaksi dengan kata-katanya, si wanita tersebut melakukan langkah antisipasi dengan mencumbui pipi sambil lagi-lagi memainkan jarinya dikedua pangkal paha lawannya. Si wanita berharap agar si bandot mau meneruskan pembicaraan sesuai dengan harapannya. Lantas hasilnya…?

“Seperti kata om tadi, om sudah tua, tidak bakalan lagi kepilih untuk periode berikutnya. Biarkan om menikmati dana pensiun yang akan diberikan pemerintah sebentar lagi. Biarlah nanti pengganti om saja yang bekerja lebih baik dari om. Paham kan?”

“Lantas soal dosa.”, sebelum meneruskan bicaranya, bandot tua ini mengusap jenggot nabinya, “Sayang, perlu diketahui, walaupun gini-gini, om ini sudah berbuat banyak untuk agama om. Lihat berapa juta uang yang om donasikan tiap bulannya kebeberapa rumah ibadah, yayasan sosial, serta turut membangun dunia pendidikan negeri ini dengan memberikan bantuan pada yayasan pendidikan sesuai aliran kepercayaan om. Belum lagi ni, tiap tahunnya om pasti naik haji. Bisa disimpulkan sayang, Awlloh itu tidak tidur, Beliau bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Didunia ini, om sudah banyak menebar pahala, biarlah Awlloh yang menilai semua amal kebaikan om.”

“Tapi soal amanah rakyat bagaimana? bukankah om sudah disumpah oleh negara untuk mewakili aspirasi mereka?”

Sambil mencium kening si wanita, bandot tua kembali memberi argumen pembenaran, “Sayangku yang cantik, ternyata kamu pinter juga ya?. Begini, jujur om akui kalo om bukan manusia sempurna, tapi nyatanya om bisa jadi wakil rakyat kan? apakah om salah? tentu tidak! om bisa duduk dikursi dewan wakil rakyat karena yang milih rakyat juga kan? jadi sekarang yang salah siapa? yang bodo siapa? kenapa juga milih wakil seperti om? Sayang, om ini hanya orang yang berada diwaktu dan tempat yang tidak semestinya saja. Om, hanya korban keadaan. Jangan pernah salahin om akan kinerja om. Okei?”

“Ow, gitu ya?”

“Terus ni om, sebelum berangkat kesini tadi, aku kan buka-buka internet, e..ee..eee…tidak sengaja nemu tulisan seorang Blogger ibu kota yang membuat surat ke pak presiden. Isinya sih biasa banget, keluh kesah seorang akar rumput yang muak dengan bobroknya sarana transportasi ibu kota. Kalo menurut tanggapan om bagaimana tuh?”

“Sayang, kamu tuh kok nanya terus sampai tidak ada habisnya, om kan masih capek sudah kamu garap habis-habisan. Tuh, lutut om aja sampe sekarang masih agak gemetar ni.”

“E..e..e..kalo tidak dijawab tak emut lho burung om, hayo pilih mana?”, canda si wanita sambil sesekali memainkan lidahnya diujung penis si bandot.

“Ha..ha..ha..kamu memang nakal deh. Gini ajah, kamu emut dulu burungku nanti tak jawab, oke?”, balas si bandot sambil membelai rambut lurus si wanita. Dasar memang wanita yang ada didepan si bandot tipe profesional terhadap pasangannya, tidak butuh waktu lama untuk membuat lawan mainnya kembali terbang melayang setelah barusan mencapai klimaks yang luar biasa dibabak pertama.

“Sayang, ngelakuinnya sambil disedot-sedot agak kuat dong, ah..oh..yes..aw..yaw gitu lebih enak”, sepersekian detik kemudian aliran darah yang mengalir diotak bandot tua laknat tersebut berpindah arah ke kepala yang lain, didengar dari desahannya nampak kalau otak sibandot mulai kosong. Tahu kalo si bandot akan mulai orgasme, dengan sigap si wanita mengurangi tempo oralnya. “Om, slurp…slurp…hmm…slurp…kok belum dijawab?”

“Ow..oh…gini sayang, sebenarnya om tidak bisa banyak menjawab karena itu sudah diluar kepentingan om. Cuman yang perlu…ow…ah…hmm…digaris bawahi. Sebenarnya masyarakat Endonesa itu lucu-lucu, khususnya yang tinggal diibu kota sana. Maunya banyak ini itu, keras kepala, susah diatur, giliran ada apa-apanya baru teriak-teriak tidak jelas. Lha tiap…ohh..o..ow…aw…bulunya jangan sampai ketarik sayang, tiap harinya, berapa ribu orang menginginkan produk baru dimunculkan dari tiap ATPM kendaraan? yang namanya…aw..oh…burungku rasanya…mau…yang namanya orang jualan pasti juga menawarkan banyak dagangan kan? giliran semua dagangan ATPM sudah terserap pasar sampai over, sekarang malah ngeluh sendiri, yang jalanan macet lah, banyak kecelakaan lalu lintas lah, sampai melebar kemasalah transportasi umum lah. Sudah seharusnya nih pihak terkait, yang jelas bukan om…he..he..he, membuat peraturan pembatasan jumlah populasi kendaraan pribadi. Yeah, seperti orang makan, ditentukan sehari itu tiga kali atau mandi sehari dua kali, iya kan? Atau sama juga seperti populasi manusia yang dibatasi dengan kesepakatan berupa KB (Keluarga Berencana). Lha kalo…oh..sayang, burungku bener-benar mau…oh…oh…, tidak mau diatur, ya begini ini hasilnya…ohhhhhhhh!…bener-bener meluber kemana-manaaaah”

Satu menit, dua menit, lima menit kemudian sudah tidak terdengar lagi rintihan si bandot tua, yang tersisa hanyalah tawa kecil dari si wanita cantik yang mencoba menyeka beberapa lendir cuer dibibirnya.

***

Beberapa jam kemudian…

Tiba-tiba hape saya berdering pertanda pesan singkat masuk, “Mas gmn kbrnya? msh sk nulis diBlog? aq ada crita bgs. Tlg bk emailmu smua ada disitu bsrta lmpiranya. Tlg buat postingn y? tp hrp diedit biar tdk timbl kntrovrsi. Slm”.

Ada apa gerangan honey ku kirim email? ow setelah buka email. Treng…teng…teng…ternyata ini dapat bahan ngeBlog yang luar biasa. Okelah kalo gitu, makasih ya Han. Udah lama ndak bersua tapi nyatanya kamu masih inget aku terus.

***

Ketik..ketik..ketik…edit…edit…edit, klik publish. Cling! Silahkan disampahin😉

Demikian dari saya,

Salam.