Sembuhkah jika sebuah ‘tumor’ di ‘kemoterapi’?

Posted on 17 December 2011

56


Yuk, berandai-andai….

Andai lho ya, ini andekan aja,

Tiba-tiba situh terkena bibit tumor, karena ini tumor yang punya kemampuan berkembang jadi kanker ganas, hanya satu cara buat menghentikan penyebaran penyakit ini kebagian tubuh yang masih sehat, yakni dengan Kemoterapi.

Menyakitkan, memang, tapi mo gimana lagi?, ini juga untuk kebaikan situh dimasa depan, kan. Dengan kata lain kemoterapi merupakan ‘harga mati’ buat ngentiin penyebaran penyakit mematikan tersebut.

Hari ini saya ndak bakal mbahas bagema dukanya situ kalok terkena tumor, lha wong ini kan cuman pengande-andean aja, kan?, jadi ndak usah dibahas. Tapi yang akan saya bahas kali ini bagema rasanya si tumor kalok tau dirinya bakal diberhentikan keganasannya lewat kemoterapi, misalnya.

Keberatan?, jelas.

Ndak setuju?, tentu.

Marah?, iya.

Begitulah kira-kira perasaan si tumor ketika tau penyebarannya bakal dikurangi, kemudian dibatasi demi kebaekan sipemilik tubuh. Dan yang pasti, sebagemana mahkluk hidup lainnya, si tumor bakal nglakuin perlawanan membabi-buta biar operasi pengurangan atopun pembatasan pendemik tidak berhasil.

Sudah jelas!, situ pasti ndak punya pilihan lagi, buat kebaekan dimasa depan, nglakuin kemoterapi memang menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan kalok situ ngebiarin dikit demi sedikit sel tubuh sehat digerogoti oleh tumor yang kemudian berevolusi menjadi kanker mematikan.

Masa iya situ bakal mempertaruhkan kenyaman hidup demi tumor laknat?, ndak kan?, masalah nanti si tumor mo nyumpahin, mo ngutukin, ato mo misuhin situ, sebodo amat, jangan dipikirin yang penting kebaekan dimasa depan, iya, kan?

***

Okei, cerita diatas hanya istilah yang saya buat untuk memudahkan situ memahami paragraph selanjutnya.

Mari kita bahas pokok masalah yang sebenarnya…

Anggap saja bibit tumor tersebut adalah pertumbuhan populasi kendaraan pribadi dinegeri ini, Endonesa. Apa yang akan terjadi kalok populasi tersebut tidak dikontrol melalui pembatasan maupun pengurangan?, yang jelas bakal menjelma jadi kanker ganas penyebab berbage masalah kesehatan bangsa.

Kalok situ merasa sebage sosok yang prihatin akan segala dampak negatif meledaknya populasi kendaraan pribadi, tidak ada salahnya meneriakkan keluhan tersebut kepihak terkaet, hewan dewan pemerintahan terhormat, semoga saja mereka tidak sibuk dengan urusan-urusan kenegaraan yang dibuat-buat. Dan kiranya lekas menyelesaekan permasalahan yang kalok tidak segera diatasi, bakal menjadi bencana bagi siapa saja.

Ato setidaknya, kalok hal diatas terasa buang-buang waktu, mencoba memulae dari diri sendiri untuk tidak menjadi salah satu bagian konsumer aktif produk otomotif adalah langkah yang patut dicoba. Lantas bagemana caranya?, maksimalkan transportasi pribadi yang sudah ada se-efektif mungkin.

Merasa tidak mungkin dan berat?, itu pasti, manusiawi malah.

Sekarang yang bakal saya tanyakan adalah, sebage homo sapiens,  apa tujuan situ hidup?, apakah sekedar cari duit, ngurusin urusan perut, ngelakuin hal suka-suka, kenthu, memperbanyak keturunan, sibuk mengais pahala, tua, kemudian mati lalu berharap masuk surga?. Kalo emang seperti itu, apa bedanya manusia dengan hewan?

Hewan hidup cuman buat ngurusin perut, kawin, punya keturunan, lalu mati, udah itu aja.

Situ bukan hewan kan? situ manusia kan?. Sebage manusia yang seharusnya punya akal serta budi pekerti, berusaha membuat tatanan hidup lebih baek yang dimulai dari diri sendiri dan syukur-syukur bisa diteladanin banyak orang memang butuh perjuangan, seperti ngejalanin kemoterapi tadi.

Memang, imbas dari hal ini bakal merembet kesegala lini, termasuk ke beberapa pihak yang masih menghendaki jalanan negeri kita dipenuhi oleh transportasi pribadi. Bahkan sebelum gerakan yang tak andai-andaikan ini bisa dijalankan, dengan sikap bengis, ‘antek-antek’ mereka bakal melakukan intimidasi, teror, serta pemutar balikan fakta ke khalayak publik akan dampak menurunnya pertumbuhan otomotif yang berimbas ke sektor yang berpengaruh langsung pada hajat hidup orang banyak, salah satunya ya berkurangnya sumber pendapatan dari industri kecil dimana mereka menggantungkan hidup dimoment ini.

Serba susah memang, tapi kalo tidak dimulai dari diri sendiri harus dari mana lagi?, ngandelin pemerintah?, iya, kalok mereka segera respon, lha wong ada pendemo bakar diri aja ndak ada yang nggubris, ngapain ngurus urusan ndak penting kayak gini. Iya, tho?, iya, kan?

Negeri ini milik kita bersama, lakukan aksi kalo sistem yang ada sudah tidak berjalan sebagemana mestinya. Untuk itu, mari kita coba nglakuin pengurangan serta pembatasan tumor tersebut dengan kemoterapi.

Tumor berupa membludaknya populasi jumlah transportasi pribadi, dan kemoterapi berupa desakan ke pemerintah agar turun tangan menangani masalah ini dengan bijak.

Jangan ngorek-ngorek upil aja bung, jangan ngelus-ngelus slangkangan aja mbak. Lakukan tindakan untuk hidup yang lebih baek dinegeri ini, Endonesa.

Silahkan disampahin.😉

Demikian dari saya,

Salam.

Noted. Gambar ilustrasi nyolong dari Blogger yang kemarin nulis surat ke presiden itu lho.

Posted in: Petuah & Opini