Suatu hari disebuah Salon yang bukan plus-plus.

Posted on 28 December 2011

52


Suatu hari disebuah Salon, yang tentunya tidak plus-plus.

Diantara kapster-kapster cantik, semlohai, sekseh, dan mau diajak nyenengin para tamu yang tengah butuh sentuhan, tersempillah seorang kapster yang tengah galau akan keberadaan Tuhan dimana ia terlanjur mempercayai-Nya sebage juru selamat.

Iya, juru selamat, terutama sebage juru selamat atas kaum-kaumnya, perempuan.

Perlu diketahui, si kapster ini meradang ketika kaumnya secara sengaja dijadikan tandon lendir oleh beberapa kaum batangan secara hewani disebuah angkot. Si kapster merasa kalo Tuhan saat itu tengah ‘konak’ dan hanya pasrah jadi penonton layaknya para pumuda harapan bangsa yang cuma diam terpaku ketika asyik dengan rintihan palsu para aktris JAV di video-video mesum itu . Ia merasa kalo Tuhan tidak benar-benar ada saat dibutuhkan. Dan sekarang ia merasa sangsi kalo Tuhan bener-bener dianggap sebage juru selamat setelah apa yang terjadi atas kaumnya ituh.

Nah, ceritanya si kapster galau ini tengah menservis seorang tamu.

Sudah jadi kodrat perempuan, kalo punya permasalahan yang dianggap melampaui kapasitas ubun-ubunnya, ’ember‘ kesembarang orang dianggap sebage jalan pintas untuk melegakan kegundahan hati. Demikian pula dengan si kapster, tanpa titik koma ia meluapkan segala kegalauannya akan sang Tuhan ke tamunya tersebut.

Mungkin karena takut salah servis, maklum kini yang pegang kendali atas kepala si tamu adalah kapster yang bermasalah, jadi apa saja bisa terjadi, kan?, salah potong misalnya. Maka untuk mengalihkan sumber permasalahan, si tamu menunjuk seorang perempuan yang kebetulan lewat melintas diluar Salon seraya berkata pada si kapster.

“Lihat mbak, wanita diluar yang lagi jalan itu. Rambutnya acak adut gitu, penampilannya ndak karuan, keliatan ndak cantik banget, yah?. Pasti Salon ini ndak punya kapster hebat ya?”, kata si tamu ke kapster.

Mendengar coleteh si tamu barusan, kapster cantik, semlohai, sekseh, dan lagi galau tersebut terang aja belingsatan, “Ih, si mas ni ngomongnya ngasal deh!, lha sayah ini apa coba?!.”

“Lantas kenapa sampe ada wanita yang rambutnya acak adut dan keliatan ndak cantik jalan tanpa noleh kesini kalo kapster disini ndak dianggap hebat?”, balas si tamu.

“Lha itu kan salah dia sendiri, kenapa dia ndak datang ke sini. Kan disini ada sayah!. Kalo dia memang butuh, harusnya kesini dong!”, jawab si kapster sengit.

Lalu sedetik kemudian, dengan senyum teduh si tamu menutup jawaban si kapster, “Kalo gitu kenapa mbak galau akan Tuhan? bukannya jawabannya sudah mbak jawab sendiri barusan?”

“????”

***************

Demikian dari saya,

Salam.