Sak iki jamane wong jowo ilang jawane.

Posted on 6 January 2012

109


Sebenernya artikel ini udah terlalu lama numpuk di Draft yang siap terbit. Karena khawatir akan menimbulkan berbage masalah jika dipublish terlalu dini, maka sayah pun nunggu sampek banyak tukang sampah berotak mampu ngertiin tulisan-tulisan disini. Dan ketika tiba waktunya, dengan keyakinan sayah akan cara pandang situh semua yang ndak sesempit lobang vagina gadis remaja, silahken sampahi artikel panjang ndak nggenah inih. Pesen saya cuman satu, ketika mbaca, tolong lepas semua ‘baju’ yang tengah situh kenakan, tapi bukan berarti bugil lho!.

***

Ndak tau apakah ini bener ato cuman sangka’an bodoh saya aja yang sok keminter, sok kritis, dan tentunya kemeruh.

Gini lho,

Situh pasti tau kan yang namanya masyarakat Jawa itu populasinya bisa dikataken lebih dari 60 persen menyebar keseluruh pelosok negeri. Negeri yang katanya udah merdeka selama 66 tahun, tapi sebenernya masih terjajah oleh bangsa Asing.

Situh para pembaca jugak tau akan hal ini, tapi cuman milih diem kayak orang lagi kawin, menikmati kesenangan sendiri tanpa peduli keadaan sekitar (termasuk sayah salah satunya). Jika di abad 20 model penjajahan berupa pendudukan suatu negera dengan mengedepankan pertumpahan darah, maka di abad millenium modelnya laen lagi.

Misal ni ya…

  • Tau kan kalo kita tuh sebenernya masih dijajah ma bangsa ‘saxxon’. Sapa bilang ‘kompeni’ udah bener-bener ngebebasin kita dari cengkramannya? liat, siapa yang ngeruk hasil bumi di Timika, Papua, terus Sumbawa, NTB, dan Cepu, di Jawa Tengah. Para bangsa(t) barat nyedot dengan seenak udelnya sendiri kekayaan sumber daya alam negeri inih. Istilahnya, ngambil bahan dengan harga dasar termurah lalu diolah yang pada akhernya menghasilkan nilai jual nggadibulah mahalnya, kalok udah gitu siapa yang untung dan siapa yang buntung, cobak? Dengan menggunakan ajian semar mesem serta jaran goyang, negara kita bagekan dipelet (hipnotis) untuk selalu memuaskan keinginan pihak asing. Negri ini seolah disetir oleh pihak ndak kasat mata untuk terus menjadi pengeksport maupun pengimport barang terbesar didunia. Sungguh memalukan dan bodoh banget bangsa ini (termasuk sayah sebage warganya).
  • Kata siapa bangsa(t) Nippon cuman menjajah negeri ini 3,5 tahun? ndak bener ituh. Lha buktinya, hampir lebih dari 30 taun industri otomotif Jepang bercokol disinih, nyatanya mbikin bebek aja masih meminta restu dari pihak prinsipil pusat sana. Harusnya kalo bangsa ini punya power, bukan tidak mungkin plant Yamaha bisa buka di Sumatra, Suzuki di Kalimantan, ato Honda di Sulawesi, dst, dsb. Bukan cuman menjadi bangsa yang bisanya ngerakit dan menjadi pengkonsumsi berat sampah otomotif ajah, kan?. Kalo cuman gituh, sungguh memalukan dan bodoh amat masyarakat negeri ini (juga termasuk sayah salah satunya).

Lantas apa hubungannya dua contoh diatas dengan kalimat yang menyinggung populasi masyarakat Jawa diparagraph pertama?

Perlu diketahui, ketika bangsa Saxxon serta Nippon sukses mencengkram negeri ini buat disetir kekanan maupun kekiri, sebenernya bangsa Arab (Timur Tengah) pun juga tengah berusaha menjajah lho.

Ah, mana mungkinlah?Β  negeri ini dan negeri asalnya Abu Nawas kan punya satu kesamaan, yakni mayoritas warganya pemeluk Islam. Bisa dikataken kedua negeri ini merupakan negara Islam terbesar dimuka bumi. Jadi secara ndak langsung ideologi pun terbilang hampir sejalan.

Ya karena itulah, sebenernya negeri kita seolah-olah lupa akan akarnya, lupa akan jati dirinya, dan lupa akan ke Endonesa’an nya.

Seperti yang udah saya kataken dikalimat pembuka, negeri ini sebagean besar dihuni oleh masyarakat Jawa yang populasinya tersebar ke seantero Nusantara. Masyarakat mayoritas yang sebenernya mempunyai pola pikir, penalaran, serta kemampuan untuk membawa bangsa menuju kearah yang lebih baek.

Kalok masyarakat mayoritas mengalami kemunduran, sudah bisa ditebak negara yang menaunginya juga seperti apa?. Sangat kasat mata, kini masyarakat Jawa tengah dalam kondisi krisis budaya.

Tidak sedikit kebudayaan Jawa mulae tergeser oleh kebudayaan Arab. Bukan tidak mungkin kalok dalem waktu dekat nanti, entah kapan, melalui revolusi budaya, bangsa Arab bakal menjadiken Endonesa sebage negara ‘boneka’ layaknya bangsa-bangsa yang udah sayah contohin diatas.

Kalok bangsa barat menggunakan teknologi modern buat nyetir negeri ini, maka bangsa timur tengah akan menggunakan politik agama maupun budaya buat bertindak serupa.

Lha kok bisa sayah ndobos ndak karuan kayak gini?, emang ada dasarnya, apa?!

Ada, dong!

Menurut kapasitas otak sayah yang besarnya ndak lebih dari upil ini membisikan. Bangsa Arab, sebage negeri yang menggantungkan roda perekonomian dari ladang kekayaan minyak bumi, mereka udah sadar kalok cadangan SDA nya udah ndak bakal bertahan lama lagi. Belum lagi inovasi ilmuwan barat yang udah nemuin titik terang sumber energi alternatif non fosil buat masa depan, merupakan kekhawatiran tersendiri bagi eksistensi bangsa Arab di peta percaturan negara-negara kaya dunia.

Dikarenakan Arab dengan Endonesa mempunya satu kesamaan tentang kepercayaan yang dijalanin, maka terasa mudah kalokΒ  pihak-pihak tak kasat mata melunturkan dikit demi sedikit kebudayaan lokal yang menjadi simbol pemersatu negeri (Bhineka Tunggal Ika) untuk digradasi menjadi kebudayaan baru.

Inget!, budaya merupakan sarana berpolitik yang sungguh luwar biasa. Dengan bisa menggeser budaya asli suatu bangsa maka tidak akan sulit untuk melakukan penetrasi budaya baru sebage pengambil alih kemudi bangsa tersebut.

Lantas apa buktinya kalok kebudayaan Timur Tengah mulae masuk menggeser kebudayan lokal?, ato jangan-jangan ini cuman omong kosong untuk memancing masalahan baru?

Ah, ndak usah dipancing pun permasalahan seperti ini emang udah ada sejak lama. Bahkan dalam buku sejarah yang dipake belajar anak-anak SD ituh juga udah tercatat, kok. Misalnya ajah ni…

  • Situh yang masih sekolah ato udah nguli pasti juga tau kan sejarah runtuhnya kerajaan Majapahit?, kerajaan yang dianggap sebage simbol kebesaran Nusantara inih?. Majapahit jatuh setelah terjadi serbuan besar-besaran oleh kerajaan Demak baek secara kekuasaan maupun kebudayaan. Sebagean kecil masyarakat Majapahit yang masih kekeuh dengan budaya aslinya mulae tersisih ke Tengger, Bromo, Jawa Timur, kemudian menjelma menjadi suku Tengger, dan ada lagi yang terdesak sampe ke pulau Bali dan beberapa lagi kepulau Lombok yang kemudian eksis menjadi suku Sasak.
  • Lantas dalam hal berbusana, jika dulu masyarakat Jawa bangga dengan beskap atopun kebaya, sekarang beda lagi, jilbab ala perempuan timur tengah ato celana cingkrang dengan jenggot nabi adalah trend baru. Begitu pula dengan ungkapan-ungkapan Jawa yang mempunyai makna luas serta arti mendalam, misal: andap asor, kere munggah bale, ato menang ngasorake, kini banyak tergeser dengan ungkapan, misal, amal mahkruf nahi mungkar, ato, sakinah mawadah warohmah. Untuk memberikan kesan religius, setiap ungkapan yang berasal dari Arab dibuat seolah-olah mendekatkan si pungucap dengan syurganya. Dan jangan lupa. Masih ada satu lagi nih. Situh pasti udah ngeh dengan Aceh ato mungkin beberapa dearah di Jawa Barat maupun Jawa Timur, bahwasannya hukum syari’at Islam terus menurus coba dipenetrasikan. Bukankah hal itu sangat bertentangan dengan semboyan bangsa ini? seolah-olah Bhineka Tunggal Ika bukan lagi acuan yang bisa dijadikan pedoman untuk berbangsa serta bernegara, melaenken sekedar semboyan yang lekang dimakan jaman. Sungguh sangat mengusik!
  • Terakhir. Sekarang yang saya anggep sebage puncak holocaust kebudayaan Jawa adalah, tidak diakuinya kepercayaan asli nenek moyang Endonesa yakni Kejawen oleh pihak terkait. Hal ini dibuktikan dalam pembuatan KTP contohnya, coba, apakah ada yang pernah tau ato liat sendiri di kolom KTP, agama yang tertulis disitu Kejawen?. Cobak situh pelajari, setidaknya cukup mengetahui ajah, bahwa kepercayaan Kejawen sebenernya lebih mempunyai nilae religius tinggi, mempunyai sisi humanis dengan sesama yang lebih erat, mempunyai nilae harmoni dengan alam yang luar biasa, dan tentunya, rasa nasionalisme yang tidak diragukan lagi. Tapi, semua generasi modern sudah tercuci otaknya. Bahwa Kejawen setara dengan animisme ato dinamisme yang berarti tidak mengakui adanya Tuhan. Bagi orang yang tidak mengakui Tuhan dianggap sebage Atheis. Atheis setara dengan Kafir, Kafir identik dengan Yahudi, Yahudi adalah bangsa yang perlu dimusnahkan. Tapi dimusnahkan atas dasar apa? (silahkan buka kitab yang isinya katanya-katanya ituh, disitu udah tertulis jelas).

Akhirnya.

Tanpa situh sadari, apalagi sayah yang goblok ini, Endonesa telah bertransformasi menjadi pusat negara Islam modern terbesar di dunia, bukan lagi di Arab sono. Hal yang juga berlaku layaknya Kristen modern yang bukan lagi di Israel melainkan di Amerika. Maka untuk ituh, mari kita nikmati hidup dinegeri yang sedang krisis budaya. Negeri yang sebenernya mengalami kemunduran. Negeri yang masih gemar dijajah. Karena dengan luwar biasa masyarakat Endonesa (lagi-lagi jugak sayah sebage warganya) telah: dengan sadar betul, seolah berotak, terkesan sangat cerdas, ndak asal-asalan, serta ndak mau dibilang ikut-ikutan, udah menjiplak dengan maha luwar biasa dan tidak mentah-mentah kebudayaan asing asal agama tersebut laer.

Iya ndak?πŸ™‚

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini