Endonesa tempoe doeloe, dibanding sekarang.

Posted on 7 January 2012

57


Lagi-lagi sayah akan ngepost tulisan lama yang udah numpuk dikotak Draft. Apakah kira-kira artikel ini ada gunanya ato tidak, ya silahkan situh sendiri yang menyimpulkan. Dan tidak lupa sayah ucapkan, jangan lupa gunakan upil yang bersarang diotak untuk mencari jawabannya.

Situh pernah lulus SD kan? masih ingat tentang pelajaran sejarah bagemana kompeni Belanda menjajah Endonesa? bahkan sampe saat ini masih ada yang percaya doktrinisasi bahwa bangsa asing yang ngendon dinegeri ini selama 3,5 abad ituh jahatnya ngalahin Sengkuni (ada yang tahu siapa itu Sengkuni?). Mulai dari implementasi de vide et impera untuk memecah belah persatuan bangsa, sistem kerja rodi yang menyengsarakan rakyat, sampe keberadaan VOC yang dianggap mengeruk untung hasil bumi negeri ini secara overdose. Tapi yang menjadi ganjalah dikepala sayah, bukan kepala yang ada rambutnya lho, tapi kepala yang….ah kok malah ngomongin kepala sigh. Yeah! intinya, sekejam itukah kolonial Belanda pada negeri yang didudukinya inih?

Oke, mari kita bahas ganjalan yang ada dikepala sayah ini.

Ketika kemerdekaan sudah ada ditangan bangsa Endonesa, kenapa negeri kita malah mendapatkan bertumpuk-tumpuk masalah diberbage bidang. Apakah bangsa kita belum siap menerima kemerdakaannya? ato malah karena terlalu lama dijajah, bangsa kita jadi terlalu nyaman dengan sistem feodal bawaan Londo. Jadi ketika pihak kolonial melepaskan pemerintahannya, bangsa ini kelabakan menghadapi sendiri kemerdekaan yang diidam-idamkannya. Untuk ituh, ndak ada salahnya dong kita tengok ke belakang serta sedikit membandingkan antara Endonesa sekarang dengan Endonesa sewaktu masih dikuasi kolonial, biar kita tahu kenapa negeri ini dibilang maju ya ndak mundur ya ndak.

  • Soal tata ruang kota. Coba tengok bagemana kondisi Jakarta sekarang, misalnya? lalu bandingkan ibu kota negara tersebut sewaktu masih bernama Batavia. Lalu lintas terstrukturisasi dengan rapih, bangunan-bangunan pusat pemerintahan, perbelanjaan, hiburan, maupun kesehatan rakyat diatur sedemikian rupa tanpa meninggalkan kesan modern. Bahkan berkat tata kota yang rapih, Bandung pun sampe terkenal ke luar negeri sebage Paris Van Java ato juga sungei Ciliwung yang sekarang ini joroknya nggadubilah, tapi dulu kenapa bisa digunakan sebage jalur transportasi aer utama cobak?
  • Soal sistem pemerintahan. Mari kita liat kondisi riil sekarang inih, KKN masih merajalela walopun slogan anti KKN ada disetiap tempat. Belum lagi birokrasi untuk rakyat yang yang katanya simple dan efisien ternyata ribetnya kayak ngalahin permaenan monopoli. Mari kita tengok sejarah tempo dulu, nyaris ndak ada yang namanya KKN jaman pemerintahan kolonial, lantas soal birokrasi dipemerintahan pun juga bener-bener tertata rapih serta efisien.
  • Soal pertanian serta perkebunan. Jika dijaman Belanda dulu, yang namanya perkebunan ituh mengalami kemasyuran sampe mendunia. Negara Eropa manah yang menyangsikan hasil kebun dari Endonesa? kopi, pala, ato gula, misalnya, benar-benar mendapat hati dinegeri manca sana. Lha kalo sekarang? ndak bisa dipungkiri, yang namanya beras ato gula aja nyatanya ngimport dari negeri tetangga. Macam mana pula ini, bah?!. Terus soal pertanian, liat ajah sistem irigasi yang dibuat, bahkan sampe saat ini mana ada insinyur modern yang mampu mengembangkan sistem pengairan peninggalan Belanda tersebut?
  • Dan terakhir soal HAM ato hukum. Yang namanya pelanggaran HAM dari mulai yang kecil sampe yang besar untuk saat ini bukan lagi hal yang baru. Ditambah pula dengan masalah hukum yang ada, suer kalo lucunya ngalahin dagelan OVJ. Bandingkan dengan jaman Belanda dulu, coba baca dan pelajari lagi soal Endonesa tempoe doeloe, yang namanya kasus HAM ituh dipastikan hampir tidak ada. Bahkan untuk masalah hukum pun, proses persidangan akan dilakukan secara fair, jikapun ada penentang pemerintahan yang berkuasa, dibunuh bukanlah hal yang patut dilakukan seperti Munir, misalnya. Paling banter juga diasingkan agar doktrinnya tidak berkembang luas layaknya kasus Diponegoro, Bung Karno, ato Bung Hatta.

Terkadang otak sayah yang penuh tumpukan upil inih berandai-andai, jika saja para kompeni ituh masih bercokol disini, keliatane ndak bakalan tega yang namanya ngerusak alam sampe ninggalin segudang permasalahan dilingkungan sekitar macam di Timika, Papua, ato di Sumbawa, NTB. Ingat! jikapun bangsa Londo ngeruk hasil bumi pastinya akan melakukan pembangunan didaerah sekitar, macam jalur kereta api di Sawahlunto, Sumatra Barat. Tapi, kenapa ketika negeri ini sudah merdeka dan nyata-nyata sanggup melepaskan diri dari belenggu kolonial Belanda, kemunduran terjadi disana-sini. Liat aksi pemerintah pusat sekarang! kelakuannya malah lebih kejam dari pada penjajah asing. Mengeruk hasil bumi tanpa memandang kestabilan ekosistem. Mencuri kekayaan alam dengan meninggalkan banyak permasalahan lingkungan sekitar. Kebodohan, kemiskinan, serta segala macam masalah multi dimensi timbul dimana-mana.

Maka tidak heran jika Papua, Aceh, ato Maluku ingin memerdekakan daerahnya. Bahkan tidak mungkin jika suatu saat nanti Yogyakarta pun menuntut untuk merdeka juga. Karena masyarakat didaerah tersebut sudah merasa muak dengan sistem pemerintahan yang ada. Sekarang yang jadi pertanyaan, kenapa setelah merdeka negeri ini malah menghadapi bertumpuk-tumpuk masalah, baek masalah alam, lingkungan, ato moral? dimanakah peran masyarakat cerdas bangsa ini? (tentunya bukan sayah lho, karena sayah goblok)

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini