Mencoba mengendalikan nafsu selakangan. Bisa?

Posted on 12 January 2012

80


Nduk, cah ayu, kamu sekarang kan udah gede. Ibuk ndak menyangsikan lagi kemolekan tubuhmu. Tapi karena itu, kok ibuk sekarang ini sering kepikiran yang ndak-ndak, tho…”

“Ndak-ndak gimana tho buk?”

“Kamu ini beda sama mbak mu si Retno, ibuk akuin kamu lebih mbodi dibanding mbak mu itu. Tapi karena itulah, ibuk sering kepikiran akan polahmu.”

“Polahku?”

“Iya, polahmu. Caramu berbusana itu lho, nduk, maksudnya.”

“Lha emang kenapa tho buk? salah ya kalo make celana pendek hipster? ato make baju agak terbuka kayak gini? Kan sekarang jamane emansipasi wanita, sak iki jamane wis modern, jadi sah-sah aja kalo ada wanita berpakaian seperti ini. Lha wong temen-temenku sekolah ya banyak yang berbusana kayak gini. Itu sudah biasa lah, buk.”

Astopiluloh, nduk. Eling…”

“Lha kalo kamu make busana terbuka kayak gitu ketempat umum, ibuk takut ada kenapa-napa dijalan, cah ayu

“Kenapa takut, buk? kan aku ndak mbikin masalah”

“Ndak bikin masalah gimana maksudmu? Itu, dengan kamu berpakaian seperti itu, sama aja udah ngundang masalah, masalah syahwat. Dan pada akhirnya malah ngundang maksiat. Kamu ndak takut kalo diperkosa ama laki-laki ndak bener dijalan?”

“Ah, ibuk ini gimana tho? punya pemikiran kok sempit. Kalo memang seperti itu, kenapa ndak laki-lakinya aja yang disuruh nahan nafsu? kenapa perempuannya yang dijadikan pangkal masalah? ndak adil itu namanya, buk.”

“Memang masalahnya ya itu lho, nduk. Ndak semua laki-laki bisa nahan nafsu. Apalagi nafsu binatang, napsu yang selalu ada ditiap kepala laki-laki ndak bener. Buat wanita cantik seperti kamu ituh, misalnya. Apa kamu ndak khawatir kalo dijalan ketemu ama laki-laki binatang yang siap memperkosa perempuan yang make baju ndak karuan kayak yang kamu pake sekarang?”

“Lha sekarang yang jadi pertanyaan ku, si laki itu mau jadi binatang ato manusia? Gampangkan?”

“Kamu ini! cah wedok masih bau kencur dikasih tau kok ngeyel!”

“Saya itu ndak ngeyel, buk. Kalo dikasih penjelasan yang logis tentu ndak ngeyel, tapi kalo ndak ada dasarnya seperti nasehat ibuk tadi, apa salah kalo anak mencari pembenaran?”

“Baiklah kalo gitu. Kalo kamu mau minta yang logis dan berdasar akan ibu kasih tau, nduk. Kamu pasti tau aturan di agama kita, aturan yang udah di tetapkan di buku ‘suci, disitu udah dijelaskan dengan gamblang. Seorang perempuan harus menutub aurat tubuhnya untuk melindungi diri dari gangguan-gangguan binatang yang berwujud laki-laki. Laki-laki yang doyan kemolekan tubuh wanita, bahkan sampe nekad memperkosa kalo memang itu ada kesempatan untuk melakukannya.”

“Buk, boleh aku kasih argumen?”

“Silahkan…”

“Gini, buk. Bukankah Tuhan menurunkan aturan-aturan yang dimuat di buku ‘suci’ itu untuk merubah manusia berakal binatang menjadi beradab?. Bukan malah mengukung kebebasan perempuan, tapi memberdayakan laki-laki untuk bisa mengendalikan nafsu kebinatangannya. Lha kalo semua perempuan disuruh ‘tertutup‘, apa bedanya dengan mendukung para laki-laki binatang yang tidak berdaya mengendalikan polah batang selakangannya?”

Duh Gusti, tobat tenan aku. Kamu itu bisa ngomong seperti itu karena ajaran siapa? Sesat itu namanya, nduk. Istifar…”

“Buk, ini bukan masalah sesat ato ndak sesat. Tapi ini sudah menjurus ke soal logika dalam berpikir. Bukan berarti kalo aku ngomong gini lantas tidak mengimani ‘Sesuatu‘ yang tertulis dibuku ‘suci’ itu lho. Terus balik ke soal tadi lagi. Cuman satu dari aku, buk. Dan ini untuk para laki-laki yang doyan mandangin aurat indah perempuan. Jika para lelaki tidak mampu mengendalikan bahkan menahan nafsunya, itu yang harus dicari jalan keluarnya. Ditemukan penyebabnya, dipelajari penyelesaiannya agar jadi bisa, biar jadi mampu. Mampu mengendalikan nafsu kebinatangan, tentunya. Bukan malah memojokkan perempuan karena mengumbar inilah, pamer itulah…”

“Cukup! cukup, nduk! Astupilulohalajim. Ibuk tidak percaya kalo kamu bisa ngomong seperti itu. Bilang sama ibuk sekarang juga, kamu udah berteman ma siapa selama ini? Ini pasti ada yang meracuni pikiranmu. Kamu sudah tersesat, nduk.”

“Ibuk mau tau aku temenan ma siapa selama ini?”

“Iya!”

“Aku udah temenan ma cowok manis yang mbikin artikel ini, buk.”😉

“???”

 

Demikian dari saya,

Salam.

***************************************