‘Polusi’ rumah ibadah? ah, biasa aja tuh, ini kan Endonesa.

Posted on 21 January 2012

52


“Masak mas, ada jemaat mo mbangun gereja aja susahnya minta ampun. Sudah ijin dipersulit, birokrasinya diperumit pula. Maunya apa sih mereka ituh? mentang-mentang mereka kaum mayoritas terus seenak udelnya sendiri mbuat aturan-aturan pendirian rumah ibadah?!”, begitu cerocos tetangga sayah dengan nada dongkol.

Mendengar kata-kata yang ndak asing seperti diatas, saya cuman tersenyum. Lha mo gimana lagi cobak, pemerintah aja yang harusnya menangani masalah macam ginih seolah berpangku tangan, apalagi sayah yang sebatas rakyat bodo.

Yeah, kalo sudah gini sayah cuman bisa bilang, kelakuan pemerintah ituh sudah mirip-mirip ma ‘Sesuatu‘ yang sodara-sodara imani. Ketika ‘Sesuatu’ tersebut melihat sesama manusia tengah berkonflik hebat, saling sikut bahkan sampe tega membunuh, hanya demi membela segala kebenaran nama-Nya, Beliau cuman duduk manis disinggasana kerajaan Syurga sambil berpangku tangan. Ndak terliat sedikitpun ‘Sesuatu’ tersebut melakukan tindak preventip, apalagi melerai kemudian menjelaskan ke banyak umat tentang segala kebenaran atas nama-Nya.

Sungguh mengusik ketentraman semesta.

Sebage masyarakat yang ndak mau tau segala permasalahan sensitip (maklum rakyat bodo, sigh), sayah cuman cengar-cengir ndak jelas ajah ngadepin celoteh tetangga. Cengar-cengir disini bukan berarti ndak mikir. Perlu diketahuin. Walo bodo-bodo gini saya masih bisa mikir, dikit, meski pemikirannya amat sangatlah sempit, sesempit lobang vagina perawan, tentunya.πŸ™‚

Nah, dari hasil olah pikir abal-abal, saya menyimpulkan point penting dimana pemerintah harus ambil sikap. Kalo perlu dimuatkan dalam sebuah peraturan yang bersifat tegas, lugas, jelas, dan juga keras. Biar dikemudian hari, hal-hal sensitip yang cenderung menimbulkan konflik dimasyarakat bisa terminimalisir ato kalo bisa terusir dari bumi Endonesa inih.

Point yang saya maksud tersebut adalah, membuat ‘batasan’ antara tempat peribadatan dengan pemukiman penduduk.

Maksudnya ‘batasan’ ituh gini, harus ada ketetapan resmi dari pemerintah tentang jarak ideal tempat peribadatan dengan pemukiman penduduk.

Kenapa harus dibuat seperti ituh?

Sudah jelas, agar ‘polusi’ yang dihasilkan dari rumah ibadah-rumah ibadah liar tersebut tidak mengganggu warga dan mencegah timbulnya kepercayaan laen untuk menandingi polusi yang sudah ada.

Lha maksudnya polusi itu apa?

Itu lho, polusi yang berupa suara ato juga polusi yang berujud gangguan lingkungan.

Sebage contoh ni.

Banyak yang meyakini, dengan semakin nyaring doa yang dikumandangkan akan berasa ‘Sesuatu’ yang dimintain doanya tersebut bakalan mendengar. Bahkan saking kepengennya doa tersebut didengar, bermacam ampli berkekuatan super, sampek perangkat alat buat nge-band pun dijejalkan dirumah peribadatan oleh para umat.

Kalo sudah gitu, bukan hanya ketenangan yang bakalan terganggu tapi juga polusi suara yang dihasilkan bisa memicu kerusakan organ pendengaran warga sekitar. Bayangkan kalok disekitar rumah ibadah tersebut ada warga yang sakit keras ato mungkin lagi asik berkembang biak, saya ndak bisa mbayangin betapa terganggunya mereka.

Contoh yang kedua.

Sudah jadi kebiasaan dihari-hari tertentu, namanya deret parkir mobil ato kendaraan yang meluber ituh udah mbikin macet jalan didepan areal rumah ibadah. Memang segh, disatu sisi akan mendatangkan rejeki bagi para tukang parkir liar ato bahkan gembel dadakan. Tapi, bagemana dengan dampak kesemrawutan jalan yang dihasilkan? bukan hanya warga sekitar yang terganggu, mungkin pengguna jalan laen juga akan merasakan hal serupa.

Maka dari itu, tolong buat para pihak terkait untuk membuat aturan tegas tentas masalah ini!

Karena apa? jika dibiarkan tanpa ada ketegasan dari pusat, yang namanya konflik mengatas namakan ‘Sesuatu’ yang di imani oleh sekolompok manusia akan terus terjadi.

Percayalah!

 

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini