Antara kenaikan BBM, masturbasi, dan orgasme.

Posted on 22 March 2012

93


Jengah meliat pemberitaan di media tentang aksi penolakan kenaikan BBM oleh mahasiswa-mahasiswa ato kelompok yang mengatas namakan rakyat. Walopun saya sebenernya juga kecewa dengan keputusan pemerintah tersebut, tapi sebage warga negara yang baek, saya tidak akan ikut melakukan aksi tereak-tereak dijalan maupun di dunia maya. Tidak akan.

Soale gini, bos. Coba situh pikir, seandenya yang pada tereak-tereak ituh menjabat duduk dikursi pemerintahan, belum tentu mereka bisa melakukan keputusan sama seperti yang udah pemerintah lakukan saat inih. Inget! beban subsidi yang digelontorkan ke rakyat sudah teramat besar. Besar banget malah.

Sayah yakin, kebanyakan manusia-manusia yang tereak-tereak demo menolak kenaikan BBM ituh pada ndak ngerti dari berbage sudut kenapa pemerintah tegas naekin harga BBM. Kalo ditanya ke pemerintah sendiri, apakah mereka tega melakukan pengurangan subsidi? jawabnya pasti juga ndak tega.

Tapi. Ini ada tapinya, bos.

Kita ambil contoh kecil di ibu kota Djakarta sanah. Yang namanya industri otomotif itu digenjot habis-habisan sampe melampaui batas limit yang ada. Berbage pabrikan otomotif baek roda dua maupun roda empat saling pasang target penjualan diatas angka ribuan unit perbulan. Untuk sepeda motor aja, sampe akhir tahun 2011, di DKI tercatat 8 ribu lebih motor merayap dijalanan. Sekarang mari berhitung. Misal 1 motor rata-rata menghabiskan bensin 2 liter, berarti butuh 16 ribu liter lebih per harinya. Ande kata pemerintah menarik subsidi 300 rupiah permotor, berarti pemerintah udah mbuang duit 3,2 milyar per hari. Lalu kalikan dengan seminggu, maka akan ketemu angkanya. Lalu kalikan lagi sebulan, kemudian setahun. Maka akan ketemu hasil akhirnya. Itu hanya untuk sepeda motor aja lho. Belum lagi ditambah dengan perhitungan mobil-mobil pribadi yang telah menembus angka penjualan 3 ribuan unit per akhir tahun 2011.

Lantas bagemana jika angka-angka tadi diakumulasikan dengan angka pertumbuhan otomotif diluar ibu kota? Bisa diliat sendiri kan betapa sebenernya pemerintah sudah berbaek hati pada rakyatnya selama ini. Tapi baek yang seperti apa, itu yang sayah tidak mengerti.

Sayah katakan lagi, sayah juga kecewa akan keputusan pemerintah menaikan harga bensin. Tapi ya mau gimana lagi, ini juga buah dari kebodohan kita sebage masyarakat komsumtip. Salah satu permasalah terbesar bangsa ini adalah masyarakatnya yang doyan onani, gemar masturbasi. Cuman ngejar nikmat orgasme sesaat. Kalo sudah ngecrit, sesal baru timbul belakangan. Tapi walopun timbul penyesalan, berhubung kegiatan tersebut enak ya diulangi lagi, lagi, dan lagi. Iya tho?. Sama halnya dengan gaya hidup yang maunya beli ini beli itu, ada motor baru beli, ada mobil baru kredit. Tapi pada ndak ngeliat efeknya. Efek yang sebenernya baru akan berasa kalo sudah ada didepan mata. Ya seperti kenaikan BBM inih. BBM mau dinaekin ajah masih juga tetep bodo dengan menanti produk terbaru para kapitalis tanpa berpikir realistis.

Ah, sudahlah. Sayah ngecriwis kayak gini juga ndak ada guna. Malah bisa-bisa dituduh sok peduli dengan kenaikan BBM. Padahal ndak juga. Kebanyakan masyarakat inih emang suka nyari enaknya sendiri, sudah bodo, terbodohi, tapi tetep merasa pinter, ya persis kayak saya lah. Kalo sudah gitu yuk masturbasi lagi ajah, mumpung ada bahannya. Nih!😉

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini