Pemotor, zombie!

Posted on 7 July 2012

36


Sebenernya ni artikel lama, lama sekali malah, bahkan saking lamanya sampe berdebu ngendon dimenu Draft. Tapi, dari pada mubazir, mending dibrojolin aja lah, yeah, sekedar buat nyampahin dunia maya ini. Iya, ndak?

***

Suatu hari dinegeri Bedebah.

Diceritaken, disana banyak kapitalis-kapitalis berkepentingan nyang ngobral produk otomotif, khususnya motor roda dua dicerita ini. Ada yang merek Yamahmud, Ndaho, Susuku, ato juga merek Kawoskaki. Pokok e banyak pilihan lah.

Ditiap merek tersebut ternyata juga ada sub produk lagi, macam, metik, bebek, ato batangan. Setiap varian punya penikmat masing-masing. Bahkan ni ya, disatu rumah konsumen, ada lho yang punya macem-macem varian beda merek.

Intinya, dinegeri Bedebah, semua konsumen kendaraan bermotor idup damai dijalan masing-masing.

***

Hingga pada suatu waktu.

Ndak ada angin, ndak ada ujan, datanglah pengendara-pengendara produk dua silinder Kawoskaki. Bagi mereka, si pengendara Kawoskaki, selaen produk motor tersebut, khususnya bebek, adalah motor sampah, biang sruntulan, penyebab kemacetan, ato jugak pemicu lakalantas. Entah bagemana bermutasinya, para pengendara-pengendara Kawoskaki tersebut sampe-sampe ngembangin sendiri ritual-ritual khusus buat ngangkangin entu motor. Bahkan, situ boleh percaya ato tidak, ritual tersebut lengkap dibuat dengan apa aja yang dibolehkan, tidak dibolehkan, sampek semua yang ditabukan dalam mengendarai motor 2 silinder ato diatasnya.

Akhernya, dari proses mutasi yang maha mencerahkan, muncul dan berkembanglah suatu keyakinan, bahwa motor selaen produk 2 silinder ato diatasnya adalah motor berbahaya bagi keselamatan dibumi, bahkan bagi pengendaranya sendiri, bisa menimbulkan kebodahan akut dan mudah menular.

Sejak saat itu, setelah mengalami mutasi yang mencerahkan, mereka konsumen-konsumen motor 2 silinder ato diatasnya, merasa wajib menyelamatkan pengandara laen, khususnya para konsumen bebek. Para pengendara ini pun akhernya nekat membentuk suatu Ormas, Front Pembela Kawoskaki, tugas laskar pembela ini adalah memastikan semua konsumen laen merek untuk berpindah ke merek yang sama seperti mereka. Selaen itu, ada juga kewajiban FPK ini, adalah melarang konsumen sama merek tapi laen pandangan untuk tidak berkendara dilingkungannya. Nekat?! Sudah pasti, masuk rumah sakit adalah jawaban yang pantas.

Kedamaean dinegri Bedebah terusik, sesama pengandara motor sudah tidak serukun dulu.

Permasalahan yang dulu cuman benih, kini semakin meluas, bahkan sampe menajam. Ternyata, berbage kalangan beda merek kendaraanpun juga ngikut membentuk Front Pembela-Front Pembela yang laen, membentuk laskar-laskar pembela yang laen, tugas mereka tidak hanya mirip FPK, tapi juga melindungi dan memperjuangkan merek kebanggaan sebage satu-satunya kendaraan layak pake dibumi.

Perpecahan dinegeri Bedabah semakin meruncing.

Pernah ada bocah polos belum terkena indoktrinisasi mengingatkan, “Semua kendaraan itu sebenernya sama aja, hanyalah alat transportasi semata, jadi…”, belum selese berucap, golok sudah terpancang dileher sibocah.

Banyak pengendara roda dua menganggap kalo kata-kata sibocah tersebut, nantinya, akan menimbulkan penghinaan, penistaan, ato juga penodaan merek kendaraan yang mereka banggakan, mungkin juga, dapat merusak ahklak negeri Bedebah, karena sudah menganggap semua kendaraan sama fungsi dijalan.

Satu demi satu, pembodohan pun terus terjadi, diwariskan dari satu generasi ke generasi yang laen.

Perang urat syaraf tak terelakkan lagi, tidak cuman lewat jalur dakwah, dunia maya pun juga dilakoni untuk terus melakukan ajang pembodohan intelektual.

Tapi…

Kenapa mereka tidak sadar juga, bahwa sejak laer, otak para pengendara ini sudah teracun karbondioksida, hidup mereka tidak lebih dari zombie yang sebenernya tidak punya otak alias mati!

Demikian dari saya,

Salam.