Harga mahal untuk hasil bagus? Wajarlah!

Posted on 11 July 2012

21


Dobosan kali ini terinpirasi dari sebuah kecelakaan karambol nyang nglibatin motor  tadi pagi pas lagi berangkat nguli. Silahken baca, semoga ndak berguna, eh…

***

Bebek, metik, ato batangan adalah kendaraan pribadi nyang luwar biyasa keberadaannya dijalan raya. Saat ini, motor adalah sarana transportasi paling digemari oleh banyak lapisan masyarakat. Tua, muda, semua pada make, termasuk saya didalemnya. Bahkan ada suatu idiom yang pernah saya denger kalok motor adalah kendaraan wajib punya tiap rumah diperkotaan.

Ironisnya, para pengguna dikota-kota besar, banyak berasumsi kalok sarana transportasi alternatif terbaek buat keluar dari kemacetan adalah sepeda motor.

Maka dari itu, banyak kapitalis produsen sepeda motor bage bernafsu syahwatnya buat terus macu angka penjualan tiap taunnya. Kalok situh belum tau, menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Endonesa, total penjualan kendaraan roda dua taun 2011 naek dikisaran angka 8 jutaan unit dibanding taun 2010 yang membukukan 7,4 juta unit. Dan untuk taun ini, 2012, kalo ndak salah, para kapitalis produsen menargetkan penjualan sepeda motor tembus diangka 8,7 juta unit. Wew!

Asal situh tau aja ya, para kapitalis produsen yang dinegara asalnya sana banyak ditekan dengan aturan ato kebijakan terkaet pertumbuhan populasi roda dua, keliatannya, mereka tengah menyumpal abis-abisan pasar dinegera berkembang yang belum ada aturan ato kebijakan pemerintah mengenai pembatasan populasi roda dua macam di Endonesa inih.

Mereka berpikir, mumpung belum banyak aturan ini-itu dari pemerintah terkaet, eksploitasi abis industri roda dua adalah langkah jitu yang kini udah bisa terbaca oleh orang bodoh macam saya. Hingga pada titik tertentu nanti, efek ketergantungan pada industri ini bagekan ‘kanker’ ditubuh manusia.

Meledaknya angka pertumbuhan industri otomotif bisa dikataken sebage gambaran membaeknya tingkat ekonomi rakyat. Dan dari industri ini pula, bisa membawa efek snow ball ke berbage sektor ekonomi laennya, karena, bagi sebagean pihak, keberadaan motor udah menjadi nyawa bagi kehidupan ekonomi mereka.

Tapi,

Ada hal yang patut situh inget. Keberadaan sepeda motor ini juga membawa efek yang tidak kalah penting untuk dimengerti bersama.

Mengacu pada data Kepolisian Republik Endonesa yang menyebutkan kalok, sepanjang taun 2011, jumlah korban mati dijalan akibat lalin menyentuh angka 31 ribuan jiwa. Kurang lebih 75 persen dari kecelakaan tersebut melibatkan kendaraan bermotor. Dan kerugian ekonomi yang diderita dari kecelakaan tersebut mencape angka 35 trilyunan rupiah. Lantas bagemana dengan taun ini? kita liat aja ntar, semoga saya dan situh ndak ngikut keitung didalemnya.🙂

Pernah jugak mbaca entah kapan, lupa dimana, ada sebuah lembaga survei independen menyataken, korban lakalantas menduduki urutan ke dua setelah penyakit tuberkolosis sebage biang pembunuh utama yang nakutin masyarakat Endonesa.

Kalok sudah gini, korban nyawa sia-sia dijalan raya tiap taunnya hampir ato malah ngalahin korban perang dinegera bergolak macam Suriah, misalnya.

Maka dari itu, guna menekan angka-angka mengerikan diatas, pemerintah harusnya berani ambil tindakan dalem mengatasi lonjakan populasi kendaraan pribadi. Pembatasan ruang gerak sepeda motor contohnya, adalah salah satu dari banyak kebijakan alternatif yang patut dicoba diterapin.

Akan banyak pihak yang bakal terusik serta terganggu dengan kebijakan diatas, pengendara motor yang menggantungkan kelangsungan hidup dan juga pihak yang merasa terganggu bisnis serta kepentingannya bakal meradang. Untuk itu pemerintah bisa nyoba nerapin terlebih dulu dikota ato wilayah tertentu, kenapa? hal ini jelas untuk mengurangi friksi kepentingan dan juga melakukan studi evaluasi sebelum diimplementasiin secara nasional.

Memang, untuk mendapat hasil bagus ada harga mahal yang harus dibayar. Tapi, apakah ada yang berani nyoba?!

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini