Selamat datang di negeri Bedebah, negeri banyak sampah!

Posted on 14 July 2012

40


Yeah, sekedar dobosan hari sabtu, lumayan buat ngilangin stress, tapi jangan stress habis mbaca ini ya, soale artikelnya panjang.

***

Sore yang melelahkan, kemarin, niat hati pengen nonton Amazing Spiderman disalah satu XXI kota Bengawan, tapi ternyata dompet ketinggalan dirumah, ya udah degh, pulang dengan langkah gontai.

Sewaktu berjalan diantara riuh pengunjung mall yang menaungi theather tersebut, mata saya terpaku pada sebuah tong sampah. Iya, tong sampah yang bagi banyak orang mungkin terliat menjijikan, tapi tidak bagi saya. Di tong berbentuk lingkaran berwarana chroom tersebut, terliat banyak bungkus dari berbage macam produk manca yang numpang eksis disini.

Coca Cola, Marlboro, kotak Hoka Bento, plastik Hypermart, sampe selebaran brosur yang menampakkan wajah cantik Agnes Monica disamping motor skutik, semua tumpek blek disitu.

Soal si Agnes, menurut saya, suwer, wajahnya terliat masih cantik disamping skutik Honda dengan pose mengundang nafsu syahwatnya, walau sekarang keberadaannya udah berbaur dikubangan sampah.



Sewaktu ndak sengaja ngeliat beberapa isi tong tersebut, sepersekian detik kemudian, otak saya yang ndak lebih besar dari bongkahan upil ini teringat akan suatu negera. Negara yang banyak menaungi berbage macam sampah cantik, Republik Bedebah nama negeri tersebut.

Situh asing dengan nama negara itu? saya tidak, karena negeri bedebah adalah negeri khayalan saya, khususnya dibanyak artikel Blog ini.

Lantas kenapa saya jadi mengidentikan negeri bedebah dengan tempat sampah? Bukannya produk itu banyak berjasa dan berguna bagi kehidupan rakyat negeri tersebut? Bukannya isi tong sampah adalah barang yang tidak berguna kemudian sebaeknya dihancurin? Apakah ini akan ada hubungannya?

Begini,

Sebage contoh, produk yang dibintangin ma Agnes Monica diselebaran barusan, menurut saya, produk itu adalah sampah yang berwujud indah dan menarik hati. Tapi tau kah situ kalo manfaat produk yang ditawarkan produsen ke konsumen tidak sebanding dengan kerugian yang konsumen terima?.

Konsumen tertarik dengan berbage macam merek kendaraan yang bersaing keunggulan sampe harganya menjadi murah. Banyak konsumen berlomba-lomba untuk membeli, dan pastinya konsumen harus membeli, sebab mereka membutuhkan produk tersebut. Tapi satu hal yang banyak terlupakan oleh saya, situ, dan kita, sebage konsumen, mereka sebage produsen tidak bakal pernah memberi tau bagemana untuk memproduksi.

Kita sebage konsumen cuman diajari bagemana bekerja keras demi segepok rupiah untuk mengkonsumsi produk bergengsi mereka. Keahlian yang banyak konsumen miliki cuman satu, MENGKONSUMSI…!

Produsen lebih senang mempekerjakan dan menggaji lebih rendah dari profit yang perusahaan hasilkan kebeberapa karyawan dari pada mengajak konsumen untuk menjadi mitra produksi. Mereka, para produsen menolak untuk berbagi, dan mereka, para produsen menolak untuk disaingi. Itu sudah hukum alam.

Menjual produk sampah dengan kemasan bergengsi serta mengkampanyekan sebage sarana penunjang kebutuhan hidup, merupakan cara super efektif dalam meraih tujuan.

Kalok memang benar sebegitu parahnya kondisi dilapangan, kenapa pemerintah negeri bedebah cuman berpangku tangan?

Inilah hebatnya produsen dalam merevolusi hasil profit untuk menjadi daya tarik pemerintah. Pemerintah yang kini tengah dililit seabrek masalah finansial, akan selalu memberi banyak kesempatan buat para produsen untuk saling berlomba menciptakan pasar.

Pajak,

Itulah yang diharapkan pemerintah dalam kondisi serba sulit seperti ini. Maka, dulu pernah saya denger, entah kapan dan dimana, dalam setiap pembukaan investasi, dogma yang selalu diterapkan pemerintah negeri bedebah adalah ‘feasibility studies’ ato istilah bodonya, studi kelayakan pembiayaan dan prospek keuntungan investasi harus masuk ke kantong pemerintah. Soal studies-studies yang lain bisa dibicarakan dibelakang.

Kenapa seperti itu? mungkin saja pemerintah akan berdalih, yang penting dapat dana dulu, kalok semua udah beres dan lancar, baru bangun pendidikan berkuwalitas dan kesejahteraan rakyat.

Tapi,

Bagemana bisa hal diatas segera terwujud?! Misal dana sudah terkumpul pun, berapa banyak rupiah yang bakal mengalir kembali ke masyarakat, menggaji wakil rakyat, menggaji anggota dewan, menggaji aparat negara? Belum lagi kalo mengalir ke kantong setan alias terkorupsi, bener-bener ngos-ngosan pemerintah negeri bedebah ini.

Jadi, kalok berbicara soal pembangunan pendidikan ato sumber daya manusia, pemerintah harus menetralisir dulu efek racun dan kanker dari produk kendaraan yang sudah terlanjur menjajah otak generasi mudanya.

Mau bicara pendidikan? otak generasi muda sudah sangat teraddicted oleh produk bergengsi dari produsen otomotif. Banyak generasi muda bakal setengah mati untuk berpikir kritis dan menerima realitas pendidikan. Pemerintah pun harus mendidik mereka dua ato tiga kali lipat, dan itu pun pasti membutuhkan biaya yang sama, dua ato tiga kali lipat banyaknya.

Sekarang,

Dari mana pemerintah negeri bedebah bisa mendapatkan dana untuk itu? Lagi-lagi, para peracun otak generasi mudalah yang datang bak pahlawan untuk menyelamatkan negeri tersebut. Bagekan lingkaran setan, itulah yang bisa saya tangkap dalam pergerakan industri sepeda motor seperti ini.

Republik Bedebah sudah kecanduan sampah, maka wajar kalok masyarakatnya pun ikut kecanduan. Karena pemerintah pun sudah menjadi agen yang turut mensosialisasikan gaya hidup konsumtif sebage norma baru dimasyarakat.

Kenapa bisa saya ndobos seperti itu?

Lihat iklan-iklan massive dari banyak produsen otomotif yang berseliweran dimana-mana, dengan begitu, dana pajak iklan pun bakal masuk ke kantong pemerintah bukan? Bukankah dengan iklan berarti penjualan bakal melambung yang berarti tersedotnya dana dari masyarakat ke pemerintah akibat mengkonsumsi racun bergengsi?

Oh,

Kalok memang demikian kenyataannya, saya bener-bener pengen pindah negara saja, pindah ke Republik Endonesa, yang keliatannya masih….belum terjajah oleh perusak otak generasi muda. Republik Endonesa kan bukan negara khayalan kan?😉

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini