Rahasia ‘udang’ dibalik ‘bakwan’. (17+)

Posted on 26 July 2012

24


Sebelumnya saya bilang, cerita ini bakalan panjang, jadi lumayan bikin mata situ pedih.

***

Saya (S) : “Apa yang melatar belakangi perusahaan bapak melakukan ‘iklan terselubung’ disektor pendidikan, misal melakukan C.S.R (Corporate Social Responsibility) disekolah-sekolah kejuruan menengah ‘bawah’, ehem, maksud saya, sekolah yang tidak mempunyai kapasitas budget tinggi dalam pengadaan sarana praktek lapangan seperti pendidikan praktek otomotif misalnya?.”

‘Orang Dalem’ Pabrikan (P) : “Baiklah, akan saya jawab sekarang. Intinya, kita, ingin memberi kemudahan fasilitas yang lebih baik dalam hal pendidikan dinegeri ini.”

S : “Tapi, maaf sebelumnya, mungkin kasarnya begini. Perusahaan bapak adalah salah satu produsen otomotif terbesar di Endonesa, tau sendiri kan, produk-produk end level anda sangat-sangat memiskinkan dan juga menjerat kaum miskin tak berpendidikan dengan rasa candu ketergantungan yang sebegitu akut parahnya. Apakah ini ada agenda terselubung dengan kegiatan tersebut?.”

P : “Maksudnya?”

S : “Semacam, melakukan ‘brain wash’ tapi dengan cara tak kasat mata ke potensial konsumen khususnya generasi muda, dan tentunya, memperoleh potongan pajak negara karena sudah melakukan sumbangan pendidikan. Paham maksud saya kan, pak?.”

P : “Ha..ha..ha..ha. Kenapa ada anak muda secerdas kamu? bener-bener langka. Intinya, tidak ada yang salah kan dengan ‘strategi dagang’ kami?, toh, pada akhirnya juga memberi kebaikan ke banyak generasi muda. Dan juga, yang terpenting, kita bisa mengentaskan kemiskinan disektor pendidikan negeri ini. Pemerintah senang karena merasa terbantu, kita senang bisa bayar separo pajak, dan yang terpenting lagi adalah, jualan kita semakin lancar. Ha..ha..ha..ha…”

S : “Berarti secara tidak langsung, bapak sudah melakukan campaign untuk membuat anak-anak muda masuk ke lingkaran industri otomotif, yeah, seperti sudah diskenariokan untuk menjadi rantai terakhir ‘supply food’ gitu?”

P : “Ya, betul, apa kah ada masalah?”

S : “Ow, tidak, tentu tidak, tapi apakah bapak tidak merasa bersalah?.”

P : “Kamu ini pemuda cerdas, tapi lugu, sekarang saya mau cerita sedikit untuk membuka wawasan kamu.”

S : “Silahkan…”

P : “Pernah dengar bagaimana bangsa barat menjajah bangsa lain?. Mereka melakukan itu untuk mendapatkan sumber daya yang diperlukan meraih kemajuan. Suatu kemajuan yang nantinya bakal dinikmati oleh cucu cicit si bangsa terjajah itu.”

S : “…..”

P : “Bingung?. Oke, saya tambah lagi. Kamu tahu kalo kita hidup enak di Jawa ini sebenernya hasil akibat dari penindasan diluar Jawa oleh Pemerintah yang berkuasa. Lihat, berapa banyak sumber daya alam yang di obral ke pihak asing?. Warga daerah yang nekat nentang, bakal dimusnahkan. Memang terlihat kejam dan tidak manusiawi, tapi lihat hasilnya. Kamu naik motor produk saya, muter-muter ngorek berita tidak penting macam sekarang juga menggunakan hasil olahan minyak para kapitalis, kan?. Kamu nanti membuat artikel wawancara kita ini juga menggunakan laptop hasil olahan tambang kapitalis, kan?”

S : “Jadi maksud bapak, untuk menjadi bangsa yang maju, haruslah ada pihak yang dikorbankan, begitu?”

P : “Tepat sekali anak muda. Tapi yang penting, jangan korbankan diri sendiri, tapi korbankan pihak lain. Ha..ha..ha..ha…”

S : “Mengorbankan orang lain, ehem, jadi, dalam rantai industri anda, konsumen lah yang harus dikorbankan?”

P : “Tunggu, tunggu dulu, anak muda. Tadi kamu bilang ‘dikorbankan’? Itu kalimat yang sangat kasar. Kita disini, diperusahaan ini, tidak setuju dengan kalimat itu. Konsumen roda dua disini, tidak sama dengan korban penjajahan yang mendapat rasa pedih. Para konsumen roda dua itu adalah manusia-manusia bahagia, meski mereka tahu tengah diekploitasi, tapi mereka melakukan itu dengan penuh rasa ikhlas. Mereka rela peras keringat, putar otak, demi uang yang dengan kesadaran penuh dibelikan sebuah motor. Ketahuilah, mereka para konsumen kita, melakukan itu dengan tanpa paksaan, mereka adalah korban yang bahagia!.”

S : “Iya, betul, mereka bahagia, tapi mereka melakukan itu karena ‘kecanduan’, kecanduan oleh skenario dagang anda.”

P : “Ha..ha..ha..ha. Jangan salahin kita dong. Kamu juga perlu berpikir lebih jauh, itulah keajaiban candu. Karena rasa itulah, manusia merasa bebas dari derita dan rasa bersalah, membuat manusia merasa bahagia walau sedang terperdaya. Perlu kamu ketahui anak muda, budak-budak jaman sekarang nyaris tidak ada yang merasa terpaksa, banyak dari mereka malah bangga, merasa keren, serta gengsi dan martabatnya terangkat. Bagi masyarakat sekarang, diperbudak industri roda dua adalah suatu kemewahan. Suatu bentuk simbol kebanggaan tersendiri dilingkungan masyarakat.”

S : “Ow, begitu ya…”

P : “Iya. Dan disitulah kita bermaen politik dagang lewat C.S.R yang sudah diskenariokan sedemikian rupa. Lewat jalur pendidikan misalnya. Selain memajukan pendidikan, perusahaan kita bisa dapat potongan pajak karena sudah membantu masalah negara. Kalo dalam Islam, kita bisa di ibaratkan dengan ‘berzakat’. Sekian persen kekayaan kita sumbangkan ke fakir jelata, kita bisa happy dapat pahala, dan yang jelas kekayaan kita bisa bersih dari dosa. Si miskin yang pintar bisa kita beli, eh, santunin, tapi kita masih tetap dapat surga.”

S : “Kata-kata anda memang sangat luar biasa, pak. Baiklah, sekarang saya kembali ke topik iklan terselubung di dunia pendidikan Endonesa. Bukankah dengan melakukan hal itu, bisa memberi efek manipulatif pikiran?. Siswa dibuat akrab dengan merek produk anda, lalu mereka mulai menganggap wajar dikehidupannya. Nanti setelah itu mereka akan mencoba dan mulai terjebak menjadi kecanduan untuk mengkonsumsi produk anda. Lantas, bagaimana menurut anda soal masalah itu?.”

P : “Kalau ada generasi muda yang mudah jatuh ke lubang jerat menipulatif kita, memang dari sananya mental mereka seperti itu. Lha moyang bangsa ini juga gemar dijajah kan, jadi maklum kalau D.N.A budak ada pada generasi jaman sekarang. Ingat!, kita melakukan semua ini tanpa paksaan, tapi konsumen yang minta.”

S : “Bukankah tujuan pendidikan negeri ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang tidak mudah diperbudak dan mampu berpikir kritis?. Bagaimana soal itu?.”

P : “Kamu benar anak muda, itu tujuan pendidikan dari pemerintah, tapi ingat, sekali lagi ingat, kita disini cuma melakukan C.S.R pendidikan. Disini kita cuma menjadi sponsor. Kalau pun ada siswa yang nanti jatuh kejerat kita, ya karena D.N.A nya memang begitu, lemah dan mudah diperbudak.”

S : “Lalu bagaimana dengan mutu alumnus sekolah yang sudah bapak sponsori tersebut?. Mereka pasti merasa berhutang pada pada sang pemberi dana. Dan suatu saat nanti kalau ada salah satu dari mereka ada yang jadi pemimpin, mereka pasti lembek dan tidak tegas terhadap gurita industri seperti ini. Pastinya, mereka bakal melestarikan gaya penguasa lama yang dengan mudah mengorbankan kepentingan rakyat demi kepentingan kapitalis, kan?.”

P : “Inilah kehidupan anak muda. Manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Kalau dulu moyang kita memperbudak dengan darah, sekarang tidak, kita bermain halus. Kita akan jejali mereka dengan iklan terselebung, perbanyak manipulatif sampai akal sehat lumer, cekoki mereka dengan paham konsumerisme. Buat mereka hidup dengan ‘mindset’ seperti itu. Dan yang terpenting, buat mereka bahagia dengan moto itu.”

S : “Jadi intinya, tidak ada yang merasa diperbudak, maka tidak ada perbudakan, tidak ada yang merasa dibodohi, maka tidak ada pembodohan.”

P : “Seperti kataku tadi, kamu cerdas!. Ha..ha..ha..ha.”

S : “Hmm, sepertinya ada yang mengganjal dengan pembicaraan kita ini, pak. Kok saya kepikiran kalau para alumnus dari dunia pendidikan yang anda sponsori akan menjadi sosok yang mengerikan bagi peradaban bangsa.”

P : “Ah, itu kan cuma sugesti kamu saja anak muda. Apakah kamu berteman dekat dengan salah seorang Blogger bongsor yang sok-sok an idealis itu? Saran saya, segera putus hubungan dengan dia, kucilkan dia, kalau pun ada akun facebook dia, di delete saja. Bagi kita, dia bagaikan kutu, kutu yang harus dibasmi. Tapi bukan kita yang membasmi, tapi ada orang-orang yang sudah kita ‘program’ untuk membasmi kutu itu. Perlu kamu ketahui anak muda, kalau kamu ingin membebaskan orang-orang dari candu industri sepeda motor kita, sama hal nya kamu membebaskan manusia dari ‘manipulasi’ agama. Pihak yang kamu ‘cerahkan’ akan merasa terusik, terganggu, bahkan bukan tidak mungkin kalau kamu akan dijadikan public enemy bagi mereka. Percayalah! Sudah ada contohnya, ya, si kutu tadi. Ha..ha..ha..ha.”

S : “Jangan bawa-bawa kawan saya dan agama lah. Balik ke topik. Lastas soal C.S.R pendidikan tadi, jadi sebaiknya bagaimana, pak?.”

P : “Pertanyaan yang harusnya kamu tanyakan ke diri kamu sendiri. Apa kamu ingin merampas kenikmatan mereka sebagai konsumen?, apa kamu ingin memberangus gengsi mereka sebagai konsumen?, belum lagi soal kesejahteraan ribuan manusia yang ada dibalik industri ini. Pikir itu!. Atau sebenarnya ada keinginan kamu yang dapat dipenuhi tanpa mengganggu ‘zona nyaman’ mereka?”

S : “Sebenernya simpel, pak. Saya cuma pengin mobilitas saya tidak terganggu, aman dan nyaman pergi kemana saja tanpa ada teror kecelakaan disepanjang jalan oleh pengguna produk anda.”

P : “Lha kalau maunya jelas seperti itu kan enak. Berarti hal yang perlu diusahakan bukan black campaign pembodohan otomotif atau apalah itu, tapi kampanye bagaimana berkendara secara aman dan nyaman. Rangkul industri seperti kita dan pemerintah untuk mempromosikan itu.”

S : “Maksudnya?”

P : “Pikir nanti saja, yuk, bersiap buka puasa dulu. Mau ‘sushi’?”

S : “Sushi?”

P : “Iya, sushi, belagak blo’on kamu. Tuh, sudah tersaji diruang sebelah. Ha..ha..ha..ha.”

S : “Astopiluloh, eh, alhamdulilah, cleguk!”

****

Dobosan diatas diambil secara semena-mena dari otak cerdas generasi muda bangsa ini, yang tentunya bukan saya lho ya, tapi mungkin situ yang lagi baca artikel ini. 😀

Demikian dari saya,

Salam.