Balada ayah mertua dan keinginan jadi PNS.

Posted on 28 August 2012

33


Pulang kampung kerumah mertua, walau sudah biasa, tapi kesannya begitu berbeda kemarin, karena memang bertepatan dengan Idul Fitri. Buat sayah yang non muslim, ikut lebur disuasana tersebut, rasa-rasanya jadi aneh, tapi tak mengapa lah, mamah dirumah kan tengah menikmati hari kebesarannya. Kalau istri bahagia, saya pun juga ikut bahagia, apa lagi my lil Shelby, putri saya, dia lebih bahagia lagi, tepatnya tengah berbunga-bunga dengan kantong saku penuh rupiah dari jatah fitrah sanak keluarga.

Seperti biasa, dimoment seperti itu, semua keluarga besar saling kumpul, saling bersilahturahmi, dan saling bermaaf-maafan walau tidak pernah berbuat salah. Ditengah wajah ceria sehabis me re-start list dosa masing-masing, ada satu wajah yang keliatannya diliputi kekhawatiran, terutama saat memandang wajah manis mantan anak gadis yang kini tengah berada digenggaman seorang maniak, pemuja kelamin, yang kini mengetik artikel ini. Beliau adalah ayah mertua saya.

Seperti kebanyakan ayah-ayah lainnya, beliau tak pernah putus mengkhawatirkan kebahagiaan anak-anaknya, walau meski tak serumah. Suatu kekhawatiran yang hanya bisa padam dengan mendengar anak-anak atau menantu-menantunya bisa menjadi seorang PNS.

Bagi beliau, seorang purnawirawan kepala sekolah dasar negeri, dan sebagai orang tua klasik kebanyakan di Endonesa, status PNS adalah jaminan hidup sampai tua nanti.

Ayah mertua saya yang klasik pasti tidak pernah mau tau bahwa, menurut Menteri Negara Perumahan Rakyat, ada sekitar 1,3 juta PNS belum mempunyai rumah tetap, menurut Badan KPK, sekitar 70 persen PNS muda banyak yang terjerat kasus korupsi, dan yang bikin saya sebagai pemuja kelamin geleng kepala, menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dari 4,7 juta PNS di Endonesa, 95 persen tidak kompeten dalam bidangnya. Payahnya lagi, mereka, para PNS adalah pelahap anggaran biaya tertinggi dinegeri yang bersemboyan Bhineka Tunggal Ika ini.

Tapi ya itu tadi,

Ayah mertua saya masih tetap klasik seperti kebanyakan orang tua di Endonesa, beliau merasa khawatir kalau anak atau menantunya belum bisa menjadi PNS. Karena PNS adalah jaminan hidup sampai tua nanti.

Kekhawatiran beliau memang bukan tanpa sebab, selain melihat menantunya yang seperti kutu loncat sering berpindah tempat kerja dari sana ke kemari, ayah sangat merasa cemas kalau usaha sampingan sang menantu sebagai produsen kebutuhan laundry ataupun salon mobil sekarang bukanlah jaminan hidup sampai tua nanti. Beliau merasa khawatir akan kesejahteraan sang anak dan juga cucunya.

Tapi, lagi-lagi tapi,

Sebagai seorang menantu yang baik, sayapun tak pernah putus arang sumbang solusi soal jaminan hidup ke anak dan cucunya nanti. Bukankah sawah dan tanah didesa masih luas? bukankah lebih baik kalau dipecah secepatnya dan kita dapat bagian untuk jaminan hidup?😈

Demikian dari saya,

Salam.

Posted in: Petuah & Opini