“Tak Tunggu Balimu”, dan perihal hubungan tanpa perasaan saya.

Posted on 3 September 2012

29


Jujur, sebage mantan pelaku hubungan tanpa perasaan, saya ndak pernah kepikir bakal nyambungin masalah perpisahan dengan dangdut campursari yang terkesan seronok. Tapi, nyatanya, saya harus menilik ulang pemikiran tersebut.

Semua berawal dari kejadian sabtu malem kemarin, pas acara halal bi halal dan peringatan kemerdekaan dikomplek rumah, dibagean acara hiburan yang berlangsung hampir tengah malam, salah seorang biduawanita dari kesenian orgen tunggal mendendangkan lagu ‘Tak Tunggu Balimu’. Sebuah tembang sendu yang dikemas merakyat, khas alunan musik akar rumput.

Setelah beberapa menit semenjak sang vokalis seksi yang bernama, … damn!, kenapa saya lupa ngajak kenalan, padahal masuk ke panitia inti acara, menyelesaekan beberapa bait syair, saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini.

Sebuah lagu perpisahan yang mengalir sendu dihati pasangan kekasih yang sebenernya udah memiliki tambatan masing-masing, walo sebenernya mereka masih saling suka, tetapi kenyataan dan waktu harus mengandaskan hubungan.

Messo sopran keluar merdu dari mulut manis si penembang yang kian malam kian syahdu walau tengah bergelut lelah dengan liukan erotisnya. Semua terdengar menyayat sungguh mengharu biru. Ia mendendang seperti meng-capture betul perasaan manusia-manusia galau dengan hubungan tanpa parasaan macam saya, dulu.

“Kau tahu diriku ku tahu dirimu”
“Kita sudah tak sendiri lagi”
“Kuharap dirimu mengerti diriku”
“Tak mungkin kita terus begini”

Benar-benar lirik yang lugas, bukan?!

Uniknya, untuk sebuah tembang bernuansa melow, ada permaenan kendang dan sorakan “yak e, yak e, aseloley”, khas Campursari Koplo Jawa Timuran dari pemaen orgen tunggal dan MC hiburan yang seolah mengolok penyanyi untuk tega melepas kekasih gelapnya. Tapi, walau gitu, tetap saja lagu tersebut mengalun sendu seluruhnya.

Sejak empat – lima kali melewati Reff yang dari tadi terus berulang, akhernya tubuh penuh peluh serta suara desah nafas yang terus memburu, mengakhiri kesenduan isi lagu yang mengalir indah dari bibir mbak, … damn!, lagi-lagi nyesel kenapa kemarin ndak kenalan dan mencatat nomor hape nya, padahal sudah berharap, suatu saat bisa menjalin hubungan tanpa perasaan dan mengakhiri dengan indah seperti lagu “Tak Tunggu Balimu” yang barusan selese didendangkannya.

Demikian dari saya,

Salam.

**************************

Bagi situ yang belum tau lagu diatas, silahkan nikmatin klip dibawah.

Posted in: Journal